Gandrung

 On July 19, 2010  

Saat akal terpupus pekat
Tak ada sinar yang mampu menerobos, ngilu, sendu
Sujud bukanlah keikhlasan
Hanya kebanggaan yang tersirat, tersurat dalam media masa dengan sedikit uang dan tercetak tebal dalam headline
Dan itu sebuah prestasi !
Tangan – tangan tak lagi terselubung, saat terjulur
Terlalu sepi jika hanya Dia yang tahu
Perlu puluhan wartawan, artis dan hiburan
Ini adalah sebuah pesta !
Kitab hanyalah sebuah bacaan, sajak – sajak indah
Kita merasa,
Kalau kita baca itu sudah kepuasan, sudah sah
Kalau kita mengamalkannya mungkin umur dunia semakin panjang
Kita merasa,
Dan itu terlalu lama, hidup nanti semakin berbelit – belit
Bukankah hanya dengan membacanya dengan keras, apalagi dengan speaker di masjid

Kita merasa,Orang memandang kita sudah bersih ?
Apalagi dengan hadir ikut pengajian, bangga banget rasanya
Pikiran kita terlalu picik
Hati kita terlalu gerah jika harus berlama – lama dengan berdiam diri di rumah Tuhan
Memberi itu dasarnya pasti berbalas, tapi terlalu lama jika harus berlama menunggu balasan dari – Nya
Kita harus mengambil sendiri, kita harus merampok !
Kita menyembunyikan yang banyak dan membagikan yang sedikit pada yang seharusnya
Lalu, dengan bangga kita harus membuat kegiatan sosial
Matahari masih dari timur pagi ini
Saat kita merasa tak pernah kenyang dan terlalu kikir dengan rasa sukur
Saat kita bangga dengan kerakusan dunia
Saat kita terlupa pada kehidupan yang kekal kelak
Orang lain banyak berharap semoga
Matahari tak lekas terbit dari barat, masih banyak yang musti di tebus
Dosa – dosa masih banyak yang melekat
Perlu lautan do’a untuk membasuh
Bermandikan amal, menepikan ke-fanaan dunia
Saat kita bangga dengan semua kekotoran ini
Musti tak pernah kita mencatat dalam buku harian kita
Namun, malaikat telah meletakkan pencatat yang otomatis dan akurat dalam pencatatan data
Kita sadar, tapi kita tak mau menyadari
Dibalik keruh, di dalam carut – marut akal, dalam piciknya pemahaman, dalam gelapnya hati dan mata yang di butakan dunia
Ada yang akan abadi
Ada yang setia mengawasi kita, yang tak pernah lelah, yang maha segalanya, yang tak pernah tidur, Sang Pemilik Kehidupan : Allah SWT

Slawi, 22 Mei 2008
Gandrung 4.5 5 Sukadi July 19, 2010 Saat akal terpupus pekat Tak ada sinar yang mampu menerobos, ngilu, sendu Sujud bukanlah keikhlasan Hanya kebanggaan yang tersirat, tersu...


28 comments:

  1. Kalau yg ini sebaliknya dari Cukuplah Allah sbg Saksi, melainkan Mereka semua harus menjadi saksi...hehehehe

    ReplyDelete
  2. Aku follow blog iki wae ah
    Kelihatannya bisa belajar banyak disini.

    Salam Sehati

    ReplyDelete
  3. Benar sekali mas... Dia tidak pernah tidur... Dia melihat segala yang kita lakukan... thanks untuk pencerahannya...

    ReplyDelete
  4. @Winny Widyawati: Tuhan telah mengutus mailkat-malaikat-Nya untuk setia mengawasi kita... :)

    ReplyDelete
  5. @eshape waskita: terimakasih Pak, belajar banyak disini? Anda terlalu berlebihan... :)

    ReplyDelete
  6. @albertus goentoer tjahjadi: terimakasih Pak, semoga saya bisa mengambil hikmah dari apa yang saya tuliskan (mungkin Anda juga)

    ReplyDelete
  7. catatannya menyentuh sekaLi om, mengandung makna yang Luas.
    ijin untuk menjadi foLLower di bLog ini, saLam persahabatan dari dukuh waru.

    ReplyDelete
  8. @om rame: terimakasih om, nanti aku follow balik deh. ternyata orang dukuh waru... salam kenal

    ReplyDelete
  9. @TRIMATRA: betul, semoga kita menjadi hamba-Nya yang selalu bisa bersyukur...
    terimakasih

    ReplyDelete
  10. sungguh petuah yang sangat bermanfaat.,.Terima ksh tlah berkunjung di tmpt ku mas...Aku sdh memfollow blog ini...Di tggu flow blk nya

    ReplyDelete
  11. Ketika kita melakukan semuanya hanya karena Allah....mungkin itulah yang namanya keikhlasan sejati, ga perlu diketahui orang lain apalagi ingin mendapatkan pujian...

    Subhanallah...nice post.. :)

    ReplyDelete
  12. @WONG SIKAMPUH: terimakasih mas, nanti aku folow balik :)

    ReplyDelete
  13. @AkuInginPulangDiKalaSenja: DIA Maha Tahu, ikhlas mungkin pilihan terbaik :)
    terimakasih mbak..

    ReplyDelete
  14. @TRIMATRA: saya tidak pandai bikin puisi pak, kalau nulis ngawur mungkin bisa. 1 agustus ya? semoga saya bisa ikut corat-coret.. :)

    ReplyDelete
  15. Inilah kita, manusia yang masih saja berbangga dan bermewah2an dengan dunia,dan senang berkeluh kesah,
    selalu (pura2) lupa dengan Yang Maha Segalanya,Yang Maha Mengetahui,
    beribadah bukan krn DIA semata, namun riya' lah yg sering kita kerjakan.
    Astaghfirullah, ampuni kami ya Rabb

    Teimakasih Mas, sudah mengingatkan
    salam

    ReplyDelete
  16. @bundadontworry: karena mengeluh lebih mudah daripada bersyukur Bunda.. :)
    terimakasih sudah berkunjung...

    ReplyDelete
  17. @julianusginting: terimakasih mas jul, waduh sampai kesini juga akhirnya. :D

    ReplyDelete
  18. keren2 ey tulisannya...follow gw balik ya..oia, ikut join kirim tulisan ke http://pojokpenulis.blogspot.com/ ya..thx

    ReplyDelete
  19. @alinsha: terimakasih mbak, lha wong tulisan kaya gini kok mau dikirimkan, apa diterima?
    maaf mau berkunjung+follow balik tidak tahu alamatnya, sampean tidak meninggalkan jejak link diprofil anda. nanti kalau ketemu saya follow balik :)

    ReplyDelete
  20. huft huft.. kunjungan perdana dan salam kenal...

    tulisannya merasuk bener di kalbu bos, apa lagi kalimat terakhir, Allah tidak pernah tidur... hiks.. terharu sekali klo mengingat apa yang telah berlalu, rasanya merugi sekali aku.....

    ReplyDelete
  21. @Nyayu Amibae: terimakasih bos kunjungannya... salam kenal:)

    ReplyDelete
  22. kemewahan dunia terkadang dapat membutakan peLakunya, hmmm... sebuah ironis kehidupan.
    terima kasih atas foLLow baLiknya, saLam persahabatan. tepatnya di sLarang kiduL.

    ReplyDelete
  23. @om rame: bener,inilah ironi. salam persahabatan...

    ReplyDelete
  24. kunjungan balik sobat,,,, thank sudah masang link uvebana.... silahkan cek kembali di blogroll uvebana... link anda sudah terpasang. Salam kenal

    ReplyDelete