Menunggu Waktu Berbuka Puasa

 On August 3, 2011  

Sore itu cuaca sangat cerah, setelah seharian panas terik. Seperti puasa sebelumnya, Kang Gendon sering menghabiskan waktu sore untuk menunggu waktu berbuka puasa dengan berkebun, kebetulan di depan rumahnya memang ada sedikit lahan yang biasa di tanami dengan cabai dan tanaman sayuran lainnya. Dia merasa kegiatannya lebih bermanfaat, ketimbang nongkrong, berkumpul di pos ronda, muter-muter menghabiskan waktu yang bisa di bilang sia-sia, menurut dia.

Seperti cerita dari tetangganya, anak-anak muda di kampungnya kadang menghabiskan waktu dengan nongkrong, jalan-jalan bersepeda motor, Kang Gendon menilai apa yang mereka lakukan untuk menunggu waktu berbuka, itu kurang bermanfaat. Kalau memang aktivitas mereka itu murni menghabiskan waktu untuk menunggu saat buka itu di isi dengan hal positif sih tidak masalah, tapi tak jarang dari apa yang mereka lakukan itu malah "menimbulkan" masalah baru. Bagaimana tidak, saat berkumpul terkadang malah jadi sesuatu yang mengurangi nilai ibadah puasa, ya, kalau kelewat asik ngobrol bisa-bisa malah jadi menggunjing.

Yang tidak kalah penting, terkadang godaan tak hanya datang dari diri sendiri, bisa jadi godaan itu datang dari lingkungan sekitar. Misalkan saja saat lalu lalang atau nongkrong di tempat keramaian, anak gadis sekarang banyak yang sudah bergaya seperti artis, dengan pakaian seksi dan dandanan yang menarik. Lah, kalau sudah begini mau bagaimana?. Jadi, menurut Kang Gendon lebih asik berkebun dari pada kumpul-kumpul tapi tidak ada hal positif yang bisa di petik.

Malahan, menurut cerita dari Kang Ferdinand, kemarin di televisi malah ada berita soal tradisi Asmara Subuh, ya, sebuah tradisi yang katanya ada di daerah sepanjang daratan Sumatera mulai dari Aceh hingga Lampung. Asmara subuh biasanya dilakukan usai salat subuh dan kegiatan itu berakhir sekitar pukul 09.00 WIB. Banyak muda-mudi yang berpacaran usai sahur, makanya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Utara mengharamkan tradisi asmara subuh sepanjang bulan suci Ramadhan. Mungkin dulunya tradisi ini tidak ada tujuan untuk hal negatif, dan mungkin saja tidak semua melakukan "tindakan terlarang", entahlah, bagi Kang Gendon semua cerita Kang Ferdinand tersebut cukup membuat prihatin.

Cukup rancu memang, dan terkesan aneh jika memang tradisi-tradisi seperti itu benar-benar ada. Hingga cukup beralasan jika Kang Gendon lebih suka berkebun, atau melihat tanaman padi di sawahnya. Bagi Kang Gendon, puasa bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar, tapi sebisa mungkin mengendalikan diri dan berusaha memberi kualitas pada ibadahnya. Dalam kesederhanaan dan dengan perasaan "dangkal" soal pengetahuan agama, tak menyurutkan niatnya untuk lebih baik dalam menjalani ibadah puasa.

"Pak, sudah sudah mau buka lho, cepetan mandi dulu...", terdengar suara dari balik pintu yang tak bukan adalah suara istri Kang Gendon. "Ya..." sahut Kang Gendon bergegas meninggalkan aktivitasnya.
 
*)Notes:
Untuk lebih jauh mengenai pro kontra tradisi asmara subuh, anda bisa mencari referensi di google. Terimakasih :)
Menunggu Waktu Berbuka Puasa 4.5 5 Sukadi August 3, 2011 Sore itu cuaca sangat cerah, setelah seharian panas terik. Seperti puasa sebelumnya, Kang Gendon sering menghabiskan waktu sore untuk menung...


21 comments:

  1. Serba sulit memang, kemajuan peradaban dan percampuran kebudayaan serta muncul-nya hal-hal baru kadang membuat sesuatu yang seharusnya tidak berubah menjadi luntur dan kalah dengan hal-hal baru itu. Asmara Subuh, seperti dalam tulisan ini adalah bukti, jika generasi baru kita sudah kalap dengan hal-hal baru yang tidak jelas sumber (dasar) dan manfaat-nya ....

    ReplyDelete
  2. @Rubiyanto: bagaimana pun juga banyak faktor yang mungkin berpegaruh, dan kemajuan jaman sering kali menjadi alasan yang "paling tepat" sebagai faktor penyebab utamanya..
    terimakasih

    ReplyDelete
  3. memang lebih baik mengalihkan pandangan dan pendengaran kita dengan kegiatan yang positif pada saat berpuasa, daripada kita hanya dapat lapar dan dahaga saja.

    ReplyDelete
  4. wew, yg puasa hanya menahan lapar dan haus saja ya pak.. :D

    perlu adanya pembinaan moral remajanya

    ReplyDelete
  5. @pakde sulas: nggih, Pakde.. mungkin yang demikian lebih bermanfaat :)

    @mabrurisirampog: semua kembali pada pribadi masing2 mas.. :)

    ReplyDelete
  6. memang rancu sekaligus prihatin..dimana orang2 berlomba saling memperbaiki jiwa dan raga dengan berpuasa, tp ini koq ada aktivitas seperti itu..

    setuju dengan apa yg dilakukan oleh kang gendon selama menunggu berbuka puasa..mending berkebun, daripada melakukan hal2 yg tak bermanfaat bagi dirinya..sip..sip.. :)

    ReplyDelete
  7. saiia malah main gitar kang nunggu buka.. salah gag iia??!?!

    ReplyDelete
  8. Selamat berpuasa dude :)

    ReplyDelete
  9. Asmara subuh lanjut asmara dhuha, lanjut asmara dhuhur.... sekalian ashar... :D

    ReplyDelete
  10. Assalamu'alaikum Kang,
    semoga kita dibukakan hati kita untuk memaksimalkan bulan "panen raya" pahala dan segala kebaikannya. Memanfaatkan setiap detik untuk mendulang pahala dan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat.

    ReplyDelete
  11. saya nunggu buka ngeliat Metro TV, kadang diseling yang lain. Banyak dapat ilmu. Yang susah sih ngamalinnya memang.

    Soal asmara subuh, mau puasa apa enggak asmara emang susah dihindari. yang jarang bangun pagi, mendadak semangat bangun pagi janjian sama pacar. asal jangan ngawuuuur... hehehe...

    ReplyDelete
  12. @windflowers: kegiatan yang positif dan bermanfaat :)

    @Belajar Photoshop: salah benar tergantung sudut pandang :)

    @Thristhan: selamat berpuasa :)

    @TOP 1: iya, banyak godaan, makanya harus pinter2 mengendalikan diri :)

    ReplyDelete
  13. @Mari Berkomunitas: Selamat menunaikan ibadah puasa.. :)

    @Tablet Android: terimakasih kembali :)

    @Sriyono Semarang: asmara maghrib-nya sekalian ya.. :D

    @Djangan Pakies: Walaikumsalam Kang,
    semoga kita menjadi hamba Allah yang beruntung. Semoga kita dibukakan hati kita untuk memaksimalkan bulan "panen raya" pahala dan segala kebaikannya. amin

    @Ami: diambil positifnya saja mbak, meskipun belum bisa menjalankannya minimal kita sudah dapat ilmunya :)

    ReplyDelete
  14. Saya punya kegelisahan yang sama, seperti yang tokoh dalam cerita ini (Kang Gendon) rasakan..

    Buat Mas Sukadi, salam sesruput kopi ya Mas, hehe..

    ReplyDelete
  15. @Masbro: hmm... aromanya mantap mas, mari ngopi bareng Kang Gendon hehe..
    makasih mas.. :)

    ReplyDelete
  16. Asmara subuh juga dulu marak kang di sini. tapi Alhamdulillah sekarang enggak ada lagi.. mungkin karena cuaca dingin ya, jadi mereka males keluar dan langsung tidur habis sahur hehe.

    Kang njaluk tempene iso ora, iki aku sahur enggak ada lauknya hahaha

    ReplyDelete
  17. harus bersyukur tuh yang bisa punya waktu untuk menunggu buka
    disini boro boro bisa nunggu
    buka aja harus nyempat nyempatin
    heheh

    ReplyDelete
  18. @Lozz Akbar: sukurlah kalau begitu Kang, yang penting jangan pindah acara baru, asmara isak misalnya hehe..

    Waduh Kang, sorry.. aku ae sahur nganggo mie kok.. hehe

    @Rawins: alhamdulillah.. yang penting bisa berbuka puasa mas.. :)

    ReplyDelete
  19. saya tidak puasa mas :D jadi ikut menyimak saja :D
    dan selamat menuaikan ibadah puasa

    ReplyDelete
  20. Segala sesuatunya dimulai dari hal yang sederhana.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah's Blog

    ReplyDelete
  21. menunggu waktu berbuka dengan kegiatan yang positif saja, itu lebih bermanfaat :)

    ReplyDelete