Jadi Apa Sepakbola Indonesia?

Lagi-lagi tentang sepakbola Indonesia, sepertinya tak bakal habis kalau dibahas tentang permasalahan yang ada. Sepertinya akan lebih baik kalau media cetak maupun elektronik tak mengulas tentang sepakbola Indonesia. Bagaimana tidak?, kebanyakan beritanya tentang masalah dan hasil yang mengecewakan.

Saya cenderung mempersepsikan sepakbola Indonesia dengan kepentingan kelompok ketimbang kepentingan bersama dan sebuah prestasi. Bukan rahasia lagi, semenjak menjelang akhir masa jabatan Nurdin Halid dan kepengurusan PSSI, sudah sangat nampak adanya kepentingan-kepentingan yang bermain. Saya tidak menuduh siapapun, hanya saja, fakta yang berbicara mengenai indikasi kebenaran persepsi saya.

Saya merasa bahwa semua pihak merasa paling benar, paling bisa memberi prestasi, sehingga banyak kontroversi yang terjadi. Dalam satu negara ada dua kompetisi, dan semua merasa yang paling berhak dan yang sah sebagai penyelenggara liga. Dan imbasnya, kerugian besar bagi persepakbolaan Indonesia!. Saya merasa miris ketika melihat sepakbola Indonesia selalu menjadi pusat perhatian, bukan karena prestasinya, tapi karena banyaknya masalah didalamnya.

Dan yang terbaru, imbas dari carut marutnya sepakbola Indonesia, ketika Timnas Indonesia harus menelan kekalahan sangat telak. Dalam pertandingan terakhir penyisihan grup PPD 2014, Indonesia dibantai Bharain dengan skor sangat mencolok, 10-0!. Memalukan?, bisa 'ya', bisa 'tidak', tergantung dari sudut mana kita memandangnya.

Tak perlu saling menyalahkan, tak ada yang perlu di salahkan, karena saya kira tidak ada yang mau di salahkan, apalagi mengakui kesalahannya. Hanya saja, rentetan hasil buruk dan jebloknya prestasi Timnas Indonesia harusnya bisa jadi bahan korekasi, bukan lantas mengelak dan mencari-cari alasan untuk mencari aman. Semua tahu, ada yang salah dalam sepakbola kita.

Mengacu pada hasil akhir pertandingan yang baru saja dilewati, kekalahan yang di derita Timnas Indonesia memberi efek psikologis bagi pendukungnya, bagaimana pun juga skor yang begitu mencolok menimbulkan rasa "malu", dan rasa pesimis akan masa depan persepakbolaan Indonesia. Saya bangga dengan perjuangan para pemain Timnas, mereka telah berjung dengan sekuat tenaga, tak ada yang menginginkan kekalahan, apalagi dengan skor yang besar. Sepakbola memang hanyalah sebuah pertandingan, kalah menang itu biasa, tapi kalau tak ada koreksi setelahnya, apakah masih dianggap biasa?. Banyak yang mulai pesimis, kalau masih seperti ini terus, jadi apa sepakbola Indonesia?. :(

18 Comments:

Lukman Nulhakiem mengatakan...

Apa yang kita lakukan lebih banyak shortcut. Kita tidak mau melalui proses. Pembinaan sepakbola mau tidak mau harus dimulai dari pembinaan usia dini, kompetisi yang tertata rapi dan pembinaan organisasi yang berkesinambungan.

Kalau seperti ini terus, saya yakin kita tidak akan pernah punya prestasi seperti Jepang. Mungkin sewaktu-waktu akan ada prestasi, tapi setelah itu tidak akan lagi...

Sukadi mengatakan...

@Lukman Nulhakiem: Menurut saya, tidak semua karena pembinaan, ada pengaruh besar dari dalam induk organisasinya, karena bukan rahasia lagi kalau kondisi PSSI sangat memprihatinkan.

Pengobatan Tradisional Kanker Hati mengatakan...

wah,,saya si emang nggak nonton sama bahrain,,parah sekali sampai 10-0,,,ya ampun,,emang gak ada yang perlu disalahkan,,para pemain timnas pastinya sudah berusaha keras,,
seharusnya koreksi itu penting,,jangan sampai jatuh dalam lubang ya sama,,hemmh

andinoeg mengatakan...

ini karena pelatih tidak diberi kebebasan untuk memilih pemain, akibatnya? ya seperti yang terjadi semalam, kalah 10-0

Sukadi mengatakan...

@Pengobatan: Semoga lain kali bisa menang..

@andinoeg: sepertinya faktor itu juga, lha wong pemain langganan timnas banyak yang main di ISL, jadinya ya "seadanya" pemainnya..

Lozz Akbar mengatakan...

emboh rah wis kang.. aku numpang ngopi wae wis disini ya

Sukadi mengatakan...

@Lozz Akbar: Monggo, tapi maaf kopinya pahit Kang.. :D

info obat alami mengatakan...

hahahaha....10-0 kiper kartu merah,,bner2 ga hbis fkir

hadi mengatakan...

Begitulah akibat nya kalau semua pada mikir duit melulu, ajang olah raga jadi carut marut =P

Djangkies mengatakan...

assalamu'alaikum Kang
wah sudah lama saya nggak nonton bola Kang, makanya kalo sampai kalah telah 10 dari Bahrain saya nggak tahu. Tapi itu memang menyedihkan sekali, karena prestasi tak kunjung terukir karena kepentingan-kepentingan pemegang kendali yang mengalahkan semua ini.

Jam Tangan KW Super mengatakan...

Saya heran aja, kenapa para pengurus PSSI itu kan sudah "berumur" semua, tapi kenapa pikiran blum ada yg dewasa ya? penakut n pengecut apalagi klo dah dihadapkan uang...

Jurnal Rachmat mengatakan...

ya neh tambah ancur aja timnas setelah di hajar 10-0...jadi males dengar beritanya di TV

frans mengatakan...

Untungnya waktu itu saya tidak menonton, jadi gak terlalu dongkol. Miris juga kalo tiap kali nonton timnas main,gak ada kemajuan,malah cenderung menurun prestasinya. Mudah-mudahan anak-anak muda di U-21 nggak ikut-ikutan memble...

Sriyono Semarang mengatakan...

Tidak tahu mo ngomong apa lagi pak,
pokokmen, hiduplah indonesia raya lah...
zzz....

orick mengatakan...

Salam Kenal Kang...

Kalau Saya, biar bagaimana pun saya supporter sejati Tim Nas. Tim yg bagus tdk terbentuk dgn instan, butuh proses dan dukungan dari semua pihak.

Scaffolding mengatakan...

Kebobrokan PSSI memang sudah jelas suatu forum yg di jadikan ajang politik merusak segalanya, miris.
Apa mereka tidak pernah melihat para penonton yg berduyung2 datang hanya untuk melihat 1 kemenangan untuk tim idolanya, tapi dihancurkan oleh para pejabat yg haus akan popularitas.

ferry Aishiteru mengatakan...

mantapzzzz....biar bagaimana pun saya supporter sejati Tim Nas. Tim yg bagus tdk terbentuk dgn instan, butuh proses dan dukungan dari semua pihak.

boleh donk datang dan mampir juga ke website kami di http://fun.unsri.ac.id/

farikah mengatakan...

timnas semakin ancur..
mudah-mudahan dipertandingan yg mendatang Timnas bsa membanggakan....

Poskan Komentar

Anda bebas berkomentar, tapi, jangan nyepam ya.. :)