Banjir Dan Kambing Hitam

 On November 27, 2012  

Musim hujan sudah datang, meski hujan belum merata di banyak wilayah, namun aroma datangnya banjir sudah mulai terasa, baik itu banjir dalam skala kecil, maupun dalam skala yang besar. Di Jakarta, Cilacap dan beberapa kota lainnya, banjir sudah melanda. Tidak ada yang berharap mendapatkan limpahan air atau kebanjiran, tapi berkaca pada yang sudah-sudah, banyak wilayah yang menjadi langganan banjir setiap musim penghujan.

Dengan selalu adanya banjir di beberapa wilayah, pemerintah sering menjadi kambing hitam, disalahkan sana-sini. Meski tak sepenuhnya salah, namun menurut saya faktor terbesar penyebab banjir adalah manusia itu sendiri. Artinya bahwa kurangnya kepedulian terhadap lingkungan mengakibatkan banjir lebih besar peluangnya untuk terjadi.

Penebangan hutan secara liar dan membabi buta bisa jadi merupakan faktor yang dominan, bagaimanapun juga ketiadaan hutan bisa mengakibatkan banjir karena tak ada lagi resapan yang memadai.

Menjadikan saluran dan sungai sebagai tempat sampah adalah hal yang "biasa", tak perlu dibantah, coba lihat disekitar Anda untuk menyatakan kebenarannya. Sampah-sampah yang sebelum musim hujan menumpuk dan belum terasa dampaknya, saat musim hujan akan memenuhi saluran dan membuat air sulit mengalir, lihat saja saat air meluap dari saluran, pasti ada sampah yang menjadi masalah.

Menutup saluran secara permanen dengan plat beton, terutama rumah atau bangunan yang berada di pinggir jalan. Tentu saja keberadaan saluran didepan rumah atau bangunan yang langsung berhadapan dengan jalan dirasa kurang mengenakkan, oleh karenanya tak sedikit yang menutup dengan plat beton, dengan banyak alasan. Tapi, kurang dipikirkan tentang perencanaan kedepan, sehingga tak sedikit kasus saluran yang menjadi mampet karena pendangkalan di bawah plat atau sampah yang menyumbat di dalamnya.

Pembangunan yang tidak memperhatikan dampak lingkungan, kurang memperhatikan pentingnya saluran atau pembuangan air juga layak dijadikan faktor penyebab. Banyak sekarang kasus yang seperti ini, sebagai contoh adalah apa yang dialami oleh teman saya, dimana perumahan yang sekarang ditempati sering terjadi banjir karena tidak jelas hulu-hilir pembuangan air.

Dalam pembangunan saluran, perlu perencanaan yang matang, perlu diperhatikan besarnya debit air, bentuk/dimensi saluran, elevasi, dan juga kejelasan hulu-hilir saluran agar air bisa mengalir maksimal.

Jadi, perlu koreksi tentang mana yang perlu diperbaiki agar permasalahan banjir bisa teratasi. Pemerintah memang menjadi aktor yang paling sering menjadi kambing hitam, memang tak sepenuhnya salah, tapi kalau terus-terusan menyalahkan pemerintah, saya kira ini kurang tepat. Semoga saja segera terbangun kesadaran dari masyarakat (saya) dan seluruh elemen yang ada, sehingga permasalahan banjir di Indonesia bisa teratasi.
Banjir Dan Kambing Hitam 4.5 5 Sukadi November 27, 2012 Permasalahn banjir yang sering terjadi dan faktor-faktor penyebab banjir Musim hujan sudah datang, meski hujan belum merata di banyak wilayah, namun aroma datangnya banji...


25 comments:

  1. Memang dampak2 yang muncul buah dari tidak memerhatikan drainase pada lingkungan sekitar tempat tinggal, miris sekali :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hukum sebab akibat tentunya masih berlaku

      Delete
  2. Pemerintah setempat sudah selayaknya bisa mendorong warganya untuk turut aktif dalam memperhatikan keadaan lingkungan sekitarnya. Bisa dengan mengadakan lomba kebersihan ataupun dengan cara lainnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepakat, atau bisa juga dengan cara yang lain yang lebih mengena dengan kultur masyarakat setempat.

      Delete
  3. klo dari segi perencanaan khususnya berhubungan dgn infrastruktur dan teknologi, seharusnya banjir di Indonesia mampi diatasi. tapi setelah perencanaan atau planning jadi, biasanya operasional pelaksanaan di lapangan cukup memble dan perawatan atau maintenance nya hampir sama sekali tak diperhatikan, duuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalaupun semua jalan dengan baik sesuai rencana, tapi orang-orangnya masih semaunya sendiri ya sami mawon.

      Delete
  4. setuju kang? Sejatinya persoalan banjir itu ada pada diri kita. Saya kira orang Indonesia itu sebenarnya sadar akan penyebab banjir. Namun, kadang pemerintah sendiri juga tidak atau katakanlah jarang memberi contoh yang baik buat masyarakatnya. Bisa juga misalnya ketidakpedulian masyarakat akan banjir akibat pemerintah yang semakin korup. Atau dalam bahasa saya, biarkan banjir terjadi biar pemerintah yang korup yang bertanggungjawab...salam...

    ReplyDelete
    Replies
    1. entahlah, kalau bicara salah benar tentunya akan sulit diketemukan akar permasalahannya, yang pasti saat ini banjir masih menjadi sebuah permasalahan yang belum juga ada solusi (atau bahkan semakin parah)

      Delete
  5. Salah satu solusi paling mudah adalah dengan membangun banyak waduk, situ, danau atau sejenisnya. Karena jakarta memang posisinya lebih rendah dari daerah lain. Makanya perlu lahan-lahan penampungan sebelum dialirkan ke laut lewat sungai yang jumlahnya terbatas itu. Pertanyaannya, maukah pemerintah kota dan masyarakat Jakarta menyediakan lahannya untuk situ-situ itu? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. atau barangkali pertanyaannya dirubah, maukah daerah yang lebih tinggi dari jakarta mau memperhatikan air diwilyah mereka agar sebisa mungkin tak seluruhnya lari ke jakarta?
      barangkali bisa juga demikian: maukah rakyat jakarta lebih peduli dengan permasalahan banjir di wilayah mereka?

      Delete
  6. Kalo menurut saya, yang utama ditanggulangi bukan banjirnya mas, namun OTAK MANUSIYANYA, PERILAKUNYA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa juga demikian, barangkali bisa jadi sebuah solusi :)

      Delete
  7. Coba klo banjir uang..pasti tuch kambing hitam nggak dilibatkan..heheh..!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin kalau banjir uang yang terlibat manusia saja, ga perlu kambing hitam :D

      Delete
  8. Tetanggaku punya komentar yang menarik, ya memang kalau lagi banjir daerah rumah sini memang menggenang, tapi kan setahun cuman 2 hari saja...

    Hi hi hi... dari pada harus berjalan jauh ke mana-mana, begitu komentarnya tetangga ku - kami memang tinggal di daerah yang kata orang "daerah banjir" tapi karena orang-orang sekitar cuek saja, jadi mindsetnya berubah: kita budgetkan saja banjir tahunan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin saking terbiasanya dan sudah langganan makanya bilang begitu, tapi bagaimanapun juga tetap saja tidak mengenkkan.

      Delete
  9. Minimal Sebulan sekali rutin gotong royong bersihin selokan.
    Menjaga agar tidak kebanjiran.
    Intinya, saluran air jgn sampai mampet.
    Daerah resapan air jgn dibangun macem2.
    Jakarta harus dibuatin lagi Setu yg banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ide bagus, kalau hal ini bisa terealisasi barangkali bisa menjadi solusi permasalahan banjir yang sering terjadi.

      Delete
  10. Kata Bapak saya kalau mengandalkan program Pemerintah, bisa-bisa rumah sudah tenggelam.
    Mau mengajak tetangga... sekarang pada sibuk semua.
    Di Sekolah saya diajarkan untuk gotong royong.
    tetapi di desa kami saya kesadaran gotong royong mulai hilang, Apalagi di kota ya?
    ah... dilema....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tak mudah memang pilihannya, mungkin harus dimulai dari diri sendiri, siapa tahu kepedulian tersebut bisa menular kepada lingkungan tanpa harus menunggu pemerintah :)

      Delete
  11. kalau dicari akarnya, siapa yang salah dan harus bertanggung jawab pastinya adalah seluruh lapisan masyarakan berserta instansi pemerintah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau bicara salah benar, akan kesulitan mencari akar permasalahannya. :)

      Delete
  12. Masih banyak masyarakat yang lebih senang komentar, sekalinya pegang sampah tapi gak ada tempat sampah.. enggan ngantongin dan langsung dibuang aja gitu. :(

    kurang "merasa" ya mas..

    ReplyDelete
  13. Terima kasih juragan ,infonya menarik sekali

    ReplyDelete
  14. masalah banjir adalah masalah bersama, harus ditangani bersama, susah klo hanya sekelompok org sj y mau peduli

    ReplyDelete