Cinta Yang Sederhana

 On June 12, 2013  

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat disampaikan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

Puisi diatas adalah karya dari Sapardi Djoko Damono, seorang pujangga Indonesia, puisi dengan judul 'Aku Ingin'. Cinta begitu sakral, dalam kesederhanaan. Dalam bahasanya memang cinta begitu mudah di deskripsikan, namun dalam kenyataannya terkadang cinta begitu rumit, meski didepan mata, walau ada di dalam hati, namun seolah jauh dalam jarak yang tak terkira.
Sesederhana Cinta
Sudah empat tahun berjalan, ya, kurang lebihnya sudah empat tahun yang lalu dengan banyak pertimbangan, dan dengan berat hati harus kami putuskan untuk berjauhan. Bukan, bukan karena kami saling membenci, tapi memang karena kondisinya mungkin harus demikian, justru semua karena cinta. Kebetulan saat ini saya bekerja di Slawi, sedangkan istri dan si kecil tinggal di Purbalingga.

Jarak menjadi sesuatu yang menjemukan bagi saya, seminggu sekali saya sempatkan untuk pulang kerumah, meski jarak tempuh antara Slawi-Purbalingga kurang lebih dua jam perjalanan. Lelah seperti apapun saya usahakan pulang, karena memang saya merasa rindu dengan keluarga.

Hubungan jarak jauh memang kurang mengenakkan, komunikasi juga terbatas, meski ada HP dan alat komunikasi lainnya, tetap saja tak bisa seleluasa bila saling bertemu dan berbicara langsung. Kadang timbul gesekan-gesekan, kadang terjadi pertengkaran-pertengakaran kecil, tak urung terkadang membuat hubungan serasa hambar. Seperti ada yang kurang, seperti ada yang hilang. Harmonisasi sebuah hubungan terkadang membuat jenuh dan terkadang menjadi sebuah beban, barangkali inilah seninya orang berumah tangga dengan jarak yang memisahkan.

Meski semua hanyalah liku-liku perjalanan rumah tangga, toh tetap saja tidak mengenakkan. Untuk memupuk agar kejemuan dan gesekan-gesekan tak berefek negatif, sesekali kami sempatkan untuk pergi bersama, meski hanya sekedar makan bareng, pergi ke alun-alun bersama, ke tempat-tempat wisata yang ada di Purbalingga.

Sesekali kami menyempatkan pergi ke hutan (jawa: alas), kebetulan orang tua punya sepetak tanah di lereng bukit yang letaknya lumayan jauh, dan untuk sampai ke lokasi hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Perjalanan dengan menyusuri sungai yang masih jernih dan melihat hijaunya hutan sungguh menyenangkan, si kecil pun tak merasa lelah meski terus berjalan.

Pada hari Sabtu (8/6/13) kemarin, saya mengajak anak dan istri pergi ke Slawi, tujuan saya untuk sekedar jalan-jalan dan menikmati kebersamaan yang jarang kami dapatkan. Kebetulan si kecil belum pernah tahu kota dimana ayahnya bekerja, tahunya hanya lewat cerita, lewat foto-foto yang saya tunjukkan kepadanya. Bukan itu saja, kami menikmati kebersamaan ini sepanjang perjalanan.

Saat berangkat ke Slawi, kami berhenti di sebuah hutan di Kecamatan Belik, kebetulan disana banyak monyet jinak yang keluar ke pinggir hutan. Kami berhenti disebuah warung yang tak jauh dari hutan tersebut, untuk istirahat sejenak dan melihat kawanan monyet yang berkumpul di pinggir hutan. Sambil menikmati jajanan di warung, kami bisa menikmati indahnya kebersamaan, bercerita dan menjadikan celotehan si kecil perekat rasa dan penghapus lelah dalam perjalanan. Di Slawi kami rasakan indahnya kebersamaan, makan bersama, mengajak si kecil ke Taman Rakyat Slawi (Trasa), jalan-jalan ke Pantai Alam Indah, bercanda dan bermain bersama.

Cukuplah hal-hal sederhana tersebut membuat rasa kami menjadi segar kembali, gesekan-gesekan yang pernah terjadi menjadi pelajaran bagi kami. Cinta bisa seperti bunga, bila tak dirawat akan ditumbuhi rumput, bisa layu, bahkan bisa mati. Cinta itu kadang rumit, kadang sulit, namun cinta pun bisa dibuat sederhana, semua kembali pada perasaan dan sudut pandang masing-masing orang.

*****

Cinta Yang Sederhana 4.5 5 Sukadi June 12, 2013 Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat disampaikan kayu kepada api y...


14 comments:

  1. Waktu saya kuliah, orang tua pernah ditugaskan di Tegal selama 4 tahun. Pernah ke Pantai Alam Indah. Serunya hal sederhana jika dimaknai bersama.

    Terima kasih partisipasinya. Sudah tercatat sebagai peserta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pantai Alam Indah sekarang sudah banyak berubah, pengembangan sana-sini untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya.. :)

      Terimakasih sudah tercatat sebagai peserta. :)

      Delete
  2. Indah Sekali Mas....
    Menyemai Cinta tidak harus dengan kemewahan, tapi dengan kesederhanaanpun bisa yang penting bersinergi dalam kebersamaan

    Salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mencintai sebisanya, seadanya, dan semewah dalam batas kemampuan. Yang penting jangan pernah cinta menjadi layu :)

      Salam

      Delete
  3. sukses pak kontes nya, saya doakan semoga bapak menang amin :)

    ReplyDelete
  4. awal kecil untuk sesuatu yang lebh besar. kesederhanaan kadang itulah yang mampu menimbulkan kebahgiaan. kisah yang menginspiratif, semoga tetap langgeng. :D

    Salam Blogger,
    Menyemai Cinta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. maturnuwun, PakLek

      Salam Blogger

      Delete
  5. Bagus banget artikel dan puisinya
    salam dari saya
    silah kan mampir y http://komputer-t.blogspot.com/
    di tunggu kunjungan nya

    ReplyDelete
  6. datang berkunjung...
    kadang kadang hal sederhana begini yang bisa membuat hubungan tetap indah selamanya... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hal-hal yang sederhana bisa menjadi penuh makna bila semua karena cinta :)
      Terimakasih kunjungannya..

      Delete
  7. Anonymous24 June, 2013

    bagus artikelnya..

    Jujur saja, saya selalu merinding kalo denger puisi Pak Sapardi di atas. Begitu mengena..
    Sampai-sampai sering lihat berita di internet, bahwa katanya puisi tersebut merupakan karya Kahlil Gibran yg diterjemahkan. Padahal itu memang orisinal bikinan Pak Sapardi :) versi musikalisasi yg saya suka ini http://www.youtube.com/watch?v=uOjasOkCoLs

    thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak yang mengira-ira, tapi nyatanya itu adalah karya dari Pak Sapardi. :)

      terimakasih...

      Delete