Hujan Dan Puisi

 On September 25, 2013  

Sore tadi saya ngobrol dengan teman, dia bercerita saat dulu saat masih bujangan, saat turun hujan dengan mudah dia menulis puisi. Kata-kata dengan mudahnya terangkai menjadi sebuah puisi, hampir selalu ada kata yang mengalir untuk dijadikan sebuah puisi, kala hujan. Ah, saya pun merasa demikian, walau tak pandai menulis puisi, tapi dulu saat masih belum menikah saya juga punya "kebiasaan" yang seperti itu.


Tahukah kamu orang yang paling tak berperasaan? Dia yang jauh dari kekasih di saat hujan, tapi tak menghasilkan puisi. - Sujiwo Tejo-

Saya masih mengarsipkan beberapa tulisan, dan beberapa diantaranya saya tuliskan kembali dalam blog saya di Padang Cahaya. Salah satu tulisan saya yang inspirasinya hadir dalam hujan adalah Dalam Hujan Kutuliskan Cinta, demikian isinya:

Sebenarnya, banyak yang ingin aku tuliskan, padamu
hanya saja, hujan telah menghapus jejak
menghilangkan guratan-guratan
dan memunculkan pesona yang baru 
Akhirnya, tak perlu aku tuliskan, padamu
tentu saja, dalam hajan yang telah menghapus jejak
yang telah menghilangkan guratan-guratan
kutitipkan tulisan kepadamu, perihal cinta 
Minggu, November 20, 2011

Maaf, entah apapun namanya, tulisan tersebut terinspirasi oleh hujan. Memang ada banyak hal yang hadir saat-saat tertentu, tak selalu saat hujan. Setiap momen pasti mempunyai kesan tersendiri, dan dari perasaan masing-masing orang menterjemahakan setiap momen tersebut kedalam imajinasi yang berbeda-beda.

Kembali pada cerita teman saya tadi, apakah mungkin ada relevansi antara hujan dan puisi?, karena saya kira itu hanya sebuah momen yang mungkin saja hanya sebuah kebetulan. Kalaupun ada relevansinya, barangkali rintik hujan memberi sentuhan sensitif kepada rasa untuk dapat mengalirkan perasaan yang terdalam kedalam larik-larik bait puisi. Lalu, mungkinkah benar kalau kami (saya) tak berperasaan?, seperti yang dikatakan Sujiwo Tejo, saat jauh dari kekasih di saat hujan, tapi tak menghasilkan puisi. :)
Hujan Dan Puisi 4.5 5 Sukadi September 25, 2013 Sore tadi saya ngobrol dengan teman, dia bercerita saat dulu saat masih bujangan, saat turun hujan ...


7 comments:

  1. saya pun demikian pak, saya selalu membuat puisi di saat gelisah baik itu hujan atau nggk, tapi sekarang mana ada haha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang penting pernah dan berusaha menghadirkannya kembali, walu satu bait hehe

      Delete
    2. bukan satu bait lagi pak, tapi satu kalimat doang haha :D

      Delete
  2. Apakah aku telah kehilangan "sumber energi" sehingga perjalanan puisi tak lagi dapat kutempuh? atau kepekaanku saja pada "momen2" itu yg tak lagi kumiliki karena terlalu "sibuk" menjalani hidup? Semoga saja alasan yg kedua kawan,... :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sumber energi itu selalu ada, hanya saja tak bisa kita mendapatkannya, cari dan dapatkanlah.

      Cinta itu tak bersembunyi, hanya terkadang disembunyikan, ditutupi.
      Cinta itu ada, hanya terkadang dianggap tiada.
      Cinta itu kamu, hanya terkadang malu-malu untuk mengaku.
      Cinta itu menyatu, selalu dan terkadang berlalu.
      Dalam kehidupan, cinta itu menyatu, dengan apapapun disembunyikan dan ditutupi, keberadaannya selalu nyata.

      Delete
  3. Gerimis, juga menginspirasiku dalam berpuisi.

    New Posts: 7 Tips Menumbuhkan Motivasi dalam Diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak inspirasi yang hadir dalam sekian banyak momen

      Delete