Ingat, Hari Kartini (Seharusnya) Bukan Ajang Untuk Mengeluh

 On April 23, 2016  

Mengenang beberapa hari kemarin, dalam statusnya, seorang teman sedikit curhat, anaknya yang masih SD sudah berpesan kalau jam 03.00 dini hari harus sudah datang antri ke salon, sekedar untuk berdandan. Tak salah, inilah anak-anak, mereka seharusnya begitu. Orang tuanya saja yang harus mengerti, terkadang  memang berat, tapi inilah konsekuensi dari sebuah penghormatan. Bukankah setiap peringatan Hari kartini selalu begitu? Tak perlu kaget.

Sudah bukan rahasia lagi, dalam budaya Indonesia, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, karena pada tanggal inilah Raden Adjeng Kartini terlahir, tepatnya tanggal 21 April 1879. Momen inilah yang kadang dikeluhkan banyak orang, utamanya orang tua yang mempunyai anak masih TK atau SD, kebanyakan sekolah mengadakan peringatan dengan cara menggunakan pakaian adat atau tradisional.

Bukan apa-apa, rata-rata salon kebanjiran order sehingga harus bersusah payah mencari dan harus rela mengantri, belum lagi biaya yang lumayan untuk sewa pakaian dan rias diri. Anak-anak bersuka cita, kebanyakan, karena hanya sekali dalam setahun mereka berkesempatan “menikmati” Indonesia. Iya, sebelum benar-benar hilang, minimal masih ada foto bergaya dengan pakaian adat dijaman yang serba digital ini.
Bila Kartini tidak berjuang, bisa saja wanita akan tetap menjadi ikon 3 M: Macak (berdandan), Masak (memasak), Manak (melahirkan). Sebagaimana pemahaman orang jaman dahulu terhadap keberadaan kaum wanita. Kalau tidak ada beliau, mungkin saja Megawati tidak pernah jadi presiden, bisa jadi Susi Pudjiastuti tidak akan duduk di kursi menteri, atau penyanyi dangdut yang menor-menor itu tidak akan jingkrak-jingkrak dengan joget yang beraneka nama.

Tapi, kalau ada perempuan yang tidak hafal Pancasila, itu bukan karena RA Kartini, sungguh, kalau sampai saat ini beliau tahu, bisa saja beliau merasa gagal dalam memperjuangkan nasib kaum wanita, karena saat ini (harusnya) sejak SD sudah diajarkan sila-sila dalam Pancasila. Lain cerita bila orang itu tidak sekolah dan tinggal di pedalaman, jangankan hafal Pancasila, buat makan saja dia harus bercucuran keringat, seperti tayangan di televisi itu, loh.

Emansipasi wanita harus dimaknai dengan bijak, tak melulu soal kesamaan hak dalam bidang apapun, karena bagaimanapun juga manusia terlahir dengan kodratnya sendiri-sendiri, adil itu tidak harus sama. Wanita ya seperti itu, laki-laki ya seperti ini. Begitulah, saya bangga terlahir sebagai seorang laki-laki, harusnya wanita juga bangga terlahir seperti ibunya. Semua ada porsinya masing-masing. Jangan salah kaprah, tidak ada dalam rumus manapun, emansipasi dimaknai dengan sangat dangkal. 

Kalau ada istri mendukung suaminya untuk korupsi, bila ada wanita yang jadi pengedar narkoba, wanita yang suka dengan uang rakyat, perempuan yang suka suami temannya, itu bukan emansipasi, bisa menangis bila Ibu Kartini tahu emansipasi dimaknai sedangkal itu.

Jangan sampai generasi masa kini tak tahu sejarah pejuang kaum wanita. Tanpa diminta beliau sadar dan rela berjuang demi kaumnya, demi orang banyak, demi kemajuan kaum wanita. Bukan berjuang demi kepentingan pribadi, partai, atau teman-temannya, tapi berjuang demi bangsa, khususnya demi peningkatan derajat kaum wanita.

Jadi, usahlah kita mengeluh, menggerutu tiada gunanya. Bila dalam satu hari di tanggal 21 April kita harus bersusah payah untuk mengenang jasa Raden Adjeng Kartini, itu lebih baik, dan patut dilestarikan. Mengantar anak berdandan a la wanita tempo doeloe, membayar sewa kostum dan ongkos bedak, bersusah-susah antar jemput anak ke sekolah karena dandanan yang sedemikian rupa, tak masalah, itu tidak seberapa. 

Emansipasi bisa diwujudkan dalam banyak hal dan berbagai peran. Marilah kita tafsirkan sendiri-sendiri arti dari emansipasi wanita, beda orang beda sudut pandang. Tak ada yang perlu diperdebatkan. Wanita tentu berbahagia dan layak berterimakasih pada RA Kartini, karena jasa-jasa beliau lah “posisi” wanita bisa berubah. Kaum perempuan tentu suka dengan perubahan ini, tapi saya percaya kalau ada yang tidak kalah disukai oleh wanita. Seperti yang saya kutipkan dari puisi Sujiwo Tejo, “perempuan suka es krim dan coklat, tapi lebih suka kepastian.” Demikianlah.
Ingat, Hari Kartini (Seharusnya) Bukan Ajang Untuk Mengeluh 4.5 5 Sukadi April 23, 2016 Mengenang beberapa hari kemarin, dalam statusnya, seorang teman sedikit curhat, anaknya yang masih ...


4 comments:

  1. Kalau Kartini dianggap berjasa mengubah image perempuan agar tidak sekadar macak, masak, dan manak, kenapa memperingatinya dengan dandan ke salon yang nggak ada bedanya dengan macak?

    Memangnya cara menghargai jasa Kartini cuma dengan memakai kebaya? Para ibu sudah menghargai jasa Kartini dengan meneruskan perjuangannya mendidik anak, mendukung agar anaknya (termasuk anak perempuannya) memperoleh pendidikan tinggi, agar mereka bisa berperan optimal di keluarga dan masyarakat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang bisa, bukan?, soal harus dandan ke salon (macak) itu bukan kemauan Kartini, saya kira tidak ada paksaan untuk itu, hanya soal sudut pandang, kesalahan persepsi, dan kebiasaan yang turun temurun.

      Memakai kebaya hanya salah satu simbol, tidak bisa kita pukul rata pemahaman masyarakat. Semua kembali pada diri masing-masing.

      Delete
  2. Hari kartini, euforia untuk mengenang arti perjuangan

    ReplyDelete
  3. Yuk ikuti lomba menulis artikel tentang danau Toba, dan menangkan hadiah puluhan juta rupiah

    "Melalui tulisan-tulisanmu, ayo! explore terus Indonesia, mulai dari danau toba, sampai keseluruh pelosok Negeri ini, agar dunia tau, bahwa Indonesia itu Kaya dan Indah."

    https://ayojalanjalan.com/toba/

    ReplyDelete