Menikmati FPL Dengan “Jalan Ninja” Masing-Masing

Tidak terasa musim baru segera bergulir, setelah lika-liku kompetisi akibat Covid-19 begitu menguras emosi pada tiga musim sebelumnya. Ya, English Premier League (EPL) atau yang fasih disebut sebagai Liga Inggris musim 2022/2023 akan bergulir kembali mulai tanggal 6 Agustus 2022. Awal musim ini dimuali lebaih awal karena tahun ini juga ada gelaran Piala Dunia. Kalau tidak salah rasa, yang paling militan dalam mengharap bergulirnya Liga Inggris adalah para manajer, iya, manajer fantasi yang semakin tahun semakin bertambah.

Fantasy Premier League. Sumber: Email Official FPL

Nah, bicara mengenai manajer fantasi, tentu tak bisa dipisahkan dengan yang namanya Fantasy Premier League atau umum disebut dengan FPL. Tidak perlu dipanjang lebarkan, toh bertumbuh dan bertambahnya manajer FPL di Indonesia adalah kabar baik, dimana suatu ketika nanti harapannya akan hadir juara dunia FPL yang berasal dari Indonesia.

Layaknya manajer sungguhan, manajer FPL tentu tidak kalah serius dalam meracik strategi, karena memang ada iming-iming yang tidak kalah menarik bila tim yang dipegang bisa mendapat poin sebanyak mungkin dengan peringkat sebaik-baiknya. Selain liga global yang hadiahnya cukup menggiurkan, baik hadiah mingguan, bulanan maupun akhir kompetisi, sekarang ini bermunculan liga-liga lokal dengan hadiah yang tidak kalah menarik.

Liga mandiri atau yang biasa diberi istilah private league memberi semangat yang berlipat bagi para manajer, berlomba memenangkan liga membuat manajer menempuh banyak cara, memperkaya ilmu dan mendapatkan referensi sebanyak-banyaknya. Bergabung di grup WA menjadi salah satu solusi, selain mencari referensi lewat Twitter, Facebook, Instagram maupun media lainnya.


Dari yang tercatat di akun twitter @pisangij01, sampai tulisan ini dibuat, sementara sudah ada 29 liga, musim-musim sebelumnya jumlah liga lebih dari 100 liga. Perlu dicatat bahwa hampir 99% liga yang tercatat disitu adalah liga lokal Indonesia. Bayangkan, bila ingin mengikuti liga yang jumlahnya lebih dari 100, maka dibutuhkan minimal empat akun FPL, karena satu akun maksimal hanya bisa mengikuti 25 liga. Belum lagi bila ada liga yang bersyarat, misal harus ada pemain dari klub tertentu, harus ini, harus itu, tentu tak cukup empat akun saja. Untungnya untuk membuat akun FPL itu gratis, dengan bermodal email sudah bisa membuat akun baru, walau mulai musim ini sudah mulai diterapkan verifikasi akun yang sedikit lebih ketat. 

Ini baru jumlah yang tercatat, padahal masih banyak liga lain yang bertebaran di grup WA, Twitter, Instagram, Facebook maupun media sosial lainnya, baik dari dalam maupun luar negeri. Bagi yang mencoba bertahan untuk fokus ke satu atau beberapa akun saja, bongkar pasang liga tak jarang terjadi. Keluar liga yang satu, masuk liga yang lainnya. Betapa menyenangkan permainan ini.

Terkadang ada yang mempertanyakan kesanggupan manajer dalam mengurus tim yang lebih dari satu, tapi saya kira pertanyaan ini terlalu teknis, karena memang ada yang sangat serius dengan data dan statistik, ada juga yang mengandalkan feeling dan keberuntungan. Walau sebenarnya yang diharapkan oleh penyelenggara FPL adalah satu individu manajer satu tim, sebagaimana yang tercantum dalam syarat dan ketentuan FPL poin nomor 6: “There is no limit on the number of Registrations per household or organisation. However, only one Registration for the Game per user of the Site or App is permitted. Individuals are not permitted to register multiple accounts on the Site or App”. Koreksi bila saya keliru. Jangan heran bila beberapa musim terakhir sering ada razia dan penghapusan akun FPL yang terindikasi bermain curang atau satu manajer yang terindikasi membuat lebih dari satu akun.

Bagi Anda manajer FPL yang membaca tulisan ini, berapa akun yang Anda punya? Tidak perlu dijawab kalau memang jawabannya sulit, nikmati saja. Bila Anda pernah memenangkan satu hadiah, baik dari Official FPL maupun private league, maka itu akan menjadi candu, penyemangat untuk merindukan game week demi game week, berharap untuk dapat memenangkan hadiah berikutnya. Apa yang saya sampaikan ini tentu diluar konteks bahwa setiap manajer memiliki tujuan yang berbeda-beda dalam mengikuti permainan ini.

......&......


Saya menikmati pasang surut dan riuhnya dunia FPL dominan dari media Twitter.  Saya teringat kutipan legendaris dari Cak Sambat di tahun 2020, begini: “Main Zuma kalau cari bahagia, FPL tempatnya sambat”. Dalam bahasa Indonesia, sambat berarti mengeluh. Memang tak mudah untuk meraih kebahagiaan dengan menjadi manajer FPL, mengacu dari apa yang disampaikan Cak Sambat tersebut. Tapi, barangkali dengan mengeluh kita bisa menikmati permainan ini.

Apapun itu, menurut saya segala sesuatu akan menyenangkan bila dinikmati. Umpatan dan keluh kesah bisa tumpah ruah di media sosial, tak terkecuali letupan bahagia ketika tim mendapat poin besar dan panah hijau. Saya tidak bicara salah atau benar dalam tulisan ini, setiap manajer punya “jalan ninja” masing-masing. Nikmati saja permainan ini, sensasi yang di rasa tentu berbeda-beda, semua akan sambat pada waktunya, sengaja maupun tidak. Toh bila musim ini tidak juara pun tetap akan kita rindukan musim berikutnya, bukan? Kalau tidak dapat juara musim ini, siapa tahu nasib baik di tahun berikutnya. Begitu.

Catatan:

Tulisan ini sebelumnya pernah dipublikasikan di blog kofpli.id yang saat ini sudah tidak aktif. Saya terbitkan kembali di blog ini dengan sedikit penyesuaian dengan kondisi saat ini.

Post a Comment for "Menikmati FPL Dengan “Jalan Ninja” Masing-Masing"