Labelisasi Acara Di Televisi Dan Kesadaran Pemirsanya

Anak kecil itu jungkir balik, berputar-putar sebelum menendang bola, kemudian berteriak mengeluarkan jurus tendangan mautnya, seketika anak yang satunya pun berteriak mengeluarkan jurus balasan, dengan gerakan yang hampir serupa. Ini adalah cerita tentang anak-anak di lingkungan saya, yang sedang bergaya layaknya tokoh dalam cerita di televisi. Anak-anak tersebut masih kecil, masih kelas 2 SD dan TK, tapi mereka "fasih" memperagakan cerita yang (tertulisnya) itu adalah tayangan untuk anak remaja.

Untuk sinetron yang (katanya) diperuntukkan bagi genre remaja tersebut, mereka tak mau tertinggal ceritanya, setiap jam 20.00 WIB mereka sudah siap di depan layar televisi. Padahal, kalau di perhatikan, sinetron tersebut kurang jelas di tujukan untuk anak-anak atau remaja, dan dialog yang dipergunakan dalam sinetron tersebut sesekali ada juga yang memakai kata-kata yang kasar. Selain itu, saya merasa cerita sinetron tersebut kurang jelas genre ceritanya, dan terkadang diluar logika. 

Saya terkadang miris melihat anak-anak sekarang "di biarkan" menikmati acara-acara yang belum semestinya, banyak orang tua yang kurang mengawasi dan sepertinya membiarkan anak-anak mereka memilih acara di telvisi, sesukanya. Seperti contoh anak-anak di atas, yang sekarang masih duduk di bangku SD kelas 2, dan juga anak yang masih duduk di bangku TK, mereka begitu mengidolakan acara yang katanya untuk remaja dan butuh bimbingan orang tua.

Stasiun televisi merasa sudah memberi rambu kepada pemirsanya, setiap acara biasanya sudah ada label yang muncul di sudut layar televisi, SU, R, D, BO. SU adalah tayangan untuk semua umur, R untuk remaja, BO adalah tontonan yang butuh pendampingan orang tua, dan D adalah tontonan untuk orang dewasa. Meski demikian, banyak yang tidak tahu, bahkan mengabaikan peringatan itu.

Itu hanya sekelumit cerita dari sekian banyak kisah serupa, dimana acara yang di suguhkan di televisi di konsumsi bebas meski sudah ada labelisasi pada setiap acara. Televisi adalah industri, keuntungan finansial mungkin adalah tujuan utama, meski sudah berlabel namun bukan jaminan "kemanan" bagi pemirsanya. Semoga saja kita bisa menempatkan diri, mencerna sungguh label tiap acara, tidak percaya begitu saja pada industri.

11 Comments:

  1. Apakah yang di maksud dalam cerita diatas adalah sinetron tendangan si madun?. Kalau, ya, berarti pendapat kita sama, sinetron yang terkesan aneh, sepertinya mengadopsi dari cerita kartun atau film serupa dari hongkong.

    ReplyDelete
  2. Yang penting point yang diterima anak-anak kan ya yang bagian happy-happynya, saperti waktu nendang bola. Menurut saya mah anak-anak gak mau ambil pusing kalo soal-soal percintaan dll

    ReplyDelete
  3. @Bunga Mesa Ananda: Semua tergantung sudut pandang, dan masing-masing punya anggapan yang berbeda, karena apa yang kita pikirkan lain dengan yang anak-anak cerna.

    ReplyDelete
  4. hehhehe udah jarang malah gak pernah nonton yang gituan lagi. soalnya gak punya tv.
    tapi emang setuju sih, sebenernya kita harus memperbanyak lagi bagaimana kita bisa memanfaatkan yang harusnya lebih bermanfaat.

    ReplyDelete
  5. sinetron? tidak terlalu suka dengan acara yang ini

    ReplyDelete
  6. @Ardian Bumi: bisa memilih dan memiliah serta bisa memposisikan diri :D

    @Arif Zunaidi: mungkin sudah jamannya mas :)

    @Andank: sama, dan cenderung tidak suka

    ReplyDelete
  7. Sebenarnya acara-acara prime time tidak diperuntukan untuk anak kecil, pun ketika mereka menonton TV pada jam tersebut alangkah baiknya ada pendampingan dari orang tua, disanalah peran utama orang tua untuk panda-pandai memilih program TV. Kalo saya pas masih kecil jam 7/8 malam sudah disuruh tidur ketika gak ada PR

    ReplyDelete
  8. mestinya yang kayak bolang, unyil, koki cilik dan yang sejenisnya di taruh prime time, gak hanya sineetrong...

    ReplyDelete
  9. Rambu2 itu kayaknya nggak efektif Pak.
    Disamping itu juga peran orang tua nggak maksimal.
    Orang tua tak berdaya

    ReplyDelete
  10. @Ibnu: Sekarang ini sepertinya label acara tak begitu penting (bagi sebagian orang), karena acara apapun sepertinya dianggap sama.

    @Suke: Saya sepakat, lha ada acara anak-anak kok tayangnya pas mereka pada sekolah.

    @marsudiyanto: kalau sudah begini, apa boleh dikata.

    ReplyDelete