Kang Gendon Kecelakaan

Berhati-Hatilah, Jangan Méndhém Saat Berkendara

Sepulang dari sawah, Kang Gendon mengalami kecelakaan, dia terjatuh ke saluran saat naik sepeda, masalahnya dia menghindari mobil yang hampir saja menabraknya. Untung saja dia tidak mengalami luka yang cukup berarti, hanya lecet sedikit pada sikunya.

Untungnya sopir yang cukup bertanggungjawab tersebut berhenti, dan coba membantu Kang Gendon. Dengan sumpah serapahnya Kang Gendon memaki sopir mobil yang ternyata seorang pemuda. "Sampeyan kalau tidak bisa nyopir mendingan naik angkot saja". Sergah Kang Gendon, dongkol. "Maaf pak, saya lagi mabuk", sahut pemuda itu, mengelak. "Loh, sampeyan méndhém?, ngepil?", lanjut Kang Gendon. "Anu, pak, bukan mabuk itu, saya mabuk kendaraan", jawab pemuda itu dengan sedikit malu-malu.

Kang Gendon sedikit mereda emosinya setelah mendengar alasan pemuda itu, dalam hati dia mau tertawa mendengar pemuda segagah itu mabuk kendaraan. "Ya sudah, kalau sampeyan mabuk kendaraan, jangan nyopir, jadi penumpang saja, jangan sampai membahayakan nyawa orang lain", tegas Kang Gendon. "Iya, pak, saya minta maaf, memang tidak biasanya saya seperti ini, mungkin karena terlalu lelah karena habis menempuh perjalanan jauh", jelas pemuda itu. "Memangnya sampeyan dari mana?". "Dari Jember, pak".

Sedikit Bersabar Saat di Lampu Merah

Lampu merah, terkadang menjadi ajang untuk berlomba jalan duluan, atau berlomba keras-kerasan suara klakson motor dan atau mobil. Ini adalah sebuah hal yang dianggap wajar, dan mungkin saja sudah semakin membudaya. Lampu merah yang saya maksud disini adalah traffic light atau rambu lalu lintas.

Itu baru cerita soal mereka yang "patuh", banyak juga yang tidak menghiraukan rambu, selagi sepi dan tidak ada polisi, seenaknya sendiri melanggar rambu-rambu. Belum lagi mereka yang menggunakan alat transportasi non mesin, becak dan sepeda misalnya, terkadang nekat saja meskipun lampu menyala merah. Saya akui, dalam situasi tertentu terkadang saya juga melakukannya, tapi sebisa mungkin saya menahan diri.

Masih saya ingat, ketika dulu pertama kali di Slawi, saya pernah menjadi korban kekurang sabaran saya. Waktu diperempatan jalan, saat lampu menyala hijau saya hendak mendahului mobil truk gandeng yang ada didepan saya, karena saya berfikir kendaraan arah berlawanan pasti berhenti. Ternyata, perkiraan saya meleset, kendaraan dari arah berlawanan juga jalan, padahal saya terlanjur ditengah truk gandengan, sedangkan dari arah berlawanan ada mobil truk box besar. Dalam posisi yang sudah terlanjur maju, untuk mundur pun sudah tidak mungkin, tak banyak pilihan yang bisa saya ambil untuk berusaha menyelamatkan diri. 

Bubarkan Klub Atau Kelompok Suporternya?

Sudah menjadi rahasia umum, kalau kondisi persepakbolaan Indonesia saat ini sudah dalam kondisi sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak?, sudah sekian lama carut marut, belum juga menemukan titik terang, bahkan terasa kian suram menurut saya. Tak perlu saya kemukakan alasan, toh saya percaya kalau Anda pasti tahu tentang banyaknya permasalahan yang saya maksudkan.

Tadi siang, saya merasa terkejut ketika membaca judul berita dalam sebuah koran, dimana fanatisme terhadap klub sepakbola harus ditebus mahal dengan taruhan nyawa. Tawuran antar kelompok suporter telah menewaskan seorang suporter dan melukai beberapa orang lainnya. Awalnya saya berfikir kalau yang tawuran itu dari pendukung dua klub yang bertanding, tapi ternyata, tawuran terjadi antara dua kelompok suporter dari pendukung klub yang sama. (Beritanya juga bisa Anda baca disini).

Saya tidak ingin membahas tentang siapa yang salah dan yang benar, karena memang saya tidak ingin dan merasa tidak punya otoritas untuk itu. Yang membuat saya masih tidak habis pikir, kenapa juga kelompok yang mendukung tim yang sama harus saling bertarung?, bukankah keberadaan kelompok tersebut sama-sama untuk mendukung satu tim?. Sering kita dengar pemberitaan mengenai tawur antar suporter, tapi biasanya, yang tawuran itu dari kelompok pendukung tim yang berbeda. Dan itu masih logis menurut saya.