Tinggal Glanggang Colong Playu

Tinggal Glanggang colong playu adalah pepatah Jawa yang artinya lari dari tanggungjawab, atau dengan kata lain seseorang yang mengingkari janji atau lari dari tanggung jawab yang telah diserahkannya - disebut juga pengecut.
Tanpa bermaksud menggunjingkan orang lain, namun apa yang terjadi disekitar saya dapat dijadikan sebuah pelajaran bagaimana kepercayaan menjadi salah satu kunci untuk dapat menjalani kehidupan dengan mudah dan menjadikan seseorang lebih terhormat serta disegani orang lain.
Lari Dari Tanggung Jawab - Pengecut
Tinggal glanggang colong playu
Dalam sebuah pekerjaan yang ditangani oleh konsultan, dalam pelaksanaan ditingkat bawah dibentuk sebuah tim yang terdiri dari lima orang setiap timnya, lengkapnya adalah satu senior dan empat anggota tim. Lima orang mempunyai tanggungjawab untuk mengawal atau mendampingi program bantuan kepada masyarakat. Secara alur kerja tentu sudah jelas tanggung jawab masing-masing personil. Kebetulan secara ikatan kerja hanya diikat oleh kontrak dengan durasi tertentu, kebetulan waktu itu kurang lebih hanya satu tahun, sehingga waktu kerja sudah dibatasi dan jelas tanggungjawab yang harus diselesaikan hingga kontrak kerja selesai.

Seorang senior loginya tanggungjawab yang dipikul lebih besar bila dibandingkan dengan anggota tim lainnya, bukan sertamerta menjadi seorang mandor yang hanya menikmati hasil akhir dari jerih payah anggota timnya. Karena yang namanya tim adalah satu kesatuan yang saling berhubungan. Seperti mata rantai, bila satu terputus maka akan menjadi sebuah permasalahan.

Dalam perjalanan memang sudah terbaca, tanggungjawab senior yang dirasa kurang menjadi bahan perbincangan anggota tim. Keluhan dari anggota tim terkait kinerja senior yang sering abai dan seolah menyerahkan segala sesuatunya pada anggota tim membuat hubungan kurang harmonis, meski tak ada anggota tim yang berani menegur secara langsung.

Menjelang kontrak kerja selesai, tentu target administrasi sangat banyak. Tak pelak membuat seluruh anggota tim bekerja keras untuk menunaikan tugas dan tanggungjawab masing-maing sesuai dengan tupoksi mereka. Tapi nyatanya semua tak berjalan mulus karean senior yang diharapkan mampu menjadi leader nyatanya tak seperti yang diharapkan. Dia sibuk dengan urusan pribadinya, tak maksimal kinerjanya sehingga anggota tim lain hanya bisa mengeluh dan berusaha menyelaikan target kerja tim.

Dengan segala keterbatasan dan kerja keras anggota tim, akhirnya selesai juga tanggungjawab penyelesaian administrasi. Kontrak kerja selesai, namun masih ada tanggungjawab administrasi yang tercecer. Senior yang harusnya menjadi pemimpin nyatanya tak menghiraukan tagihan kekuarangan administrasi tersebut, saat di SMS jawabannya sungguh diluar dugaan: Lha mbok kon piye? aku masih repot, lagian bukannya kalau sudah gajian semua sudah selesai, kita kalau disuruh menyelasaikan administrasi mereka mau gaji berapa?. Akhirnya anggota tim yang menyelsaikan seluruh data dan administrasi yang diminta.

Pentingnya Sebuah Kepercayaan

Dalam hal apapun, kepercayaan adalah modal yang sangat berharga, tak terkecuali dalam dunia kerja. Saya ingat sebuah petuah bijak dalam Bahasa Jawa: ‘kelangan bondo dudu opo-opo, kelangan nyowo tegese kelangan separo, kelangan kapercayan tegese kelangan sak kabehe', yang artinya kurang lebih demikian: kehilangan harta bukan apa-apa, kehilangan nyawa berarti kehilangan sebagian, kehilangan kepercayaan berarti kehilangan segalanya.

Bila diterjemahkan lebih luas, kehilangan harta bukan apa-apa, karena harta masih bisa untuk dicari. Selama orang masih bernyawa, mau berusaha, dan masih dipercaya oleh orang lain, kemungkinan besar kesempatan untuk mencari harta masih terbuka lebar. Ikhtiar dan berusaha bisa menjadi kunci dalam mencari harta.

Kehilangan nyawa bukan berarti kehilangan segalanya, karena selama orang meninggal dengan meninggalkan hal-hal baik selama hidupnya, kemungkinan orang tak serta merta melupakan kebaikannya, masih ada hal-hal yang bermanfaat yang ditinggalkannya. 

Tapi, kalau orang sudah kehilangan kepercayaan, bisa jadi dia seperti kehilangan segalanya. Orang yang tidak dipercaya lagi oleh orang lain kemana-mana hanya jadi "sampah". Misalnya dia berkata apapun, berbuat apapun, orang sudah tidak percaya kepadanya, walaupun apa yang dia ucapkan, apa yang dia lakukan itu mungkin saja tidak salah. Apa yang bisa diharapkan lagi?, menanamkan kembali rasa percaya orang lain kepadanya sangat sulit karena yang tertanam dalam pemikiran orang adalah ketidakpercayaan.

Realita Dalam Kehidupan

Apa yang saya sampikan diatas adalah sebuah contoh kecil, masih banyak hal-hal yang lebih besar yang terjadi dalam kehidupan nyata. Cerita lain, ada seorang istri yang "kehilangan" suaminya karena sang suami tak juga kembali bertahun-tahun, tanpa kabar. Setelah sekian tahun tak kembali dan tak ada kabar berita akhirnya sang istri menikah lagi.

Ada laki-laki yang tidak bertanggungjawab meninggalkan pacarnya, karena sang pacar sudah mengandung dari hasil hubungan mereka. Banyak suami yang meninggalkan istri dan anak-anaknya tanpa kabar. Ada pimpinan yang ingkar dan mengabaikan hak-hak anak buahnya. Banyak ibu yang tidak bertanggungjawab dan meninggalkan atau bahkan membuang bayi mereka dipinggir jalan. Dan masih banyak lagi realita yang terjadi dalam kehidupan ini tentang orang yang lari dari tanggungjawabnya.

Mungkin kita bisa menyimpulkan, dalam segala aspek kehidupan, menemukan orang yang lari dari tanggungjawab adalah hal yang memungkinkan. Lihat saja berita yang ada atau apa yang ada disekitar kita, dengan berbagai macam alasan orang menghindar dari tanggungjawab, menjadi seorang pengecut, tinggal glanggang colong playu.

“Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati

Ketika Radio Jadi Tempat Curhat

Sepengetahuan saya, jaman dulu ketika masa perjuangan, radio merupakan media komunikasi yang sangat penting. Banyak orang berkumpul untuk mendengarkan berita-berita penting terkait perkembangan perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan.
Radio
Sekarang ini dalam perkembangannya radio makin berkurang pendengarnya, saya tak bisa menampilkan hasil surveinya disini, tapi dari apa yang saya ketahui dari lingkungan dimana saya berada, makin sedikit orang yang mendengarkan siaran radio. Lebih mudah menemukan orang yang asik mendengarkan musik dari ponsel mereka, sering menemukan orang baca berita dari smart phone atau layar monitor komputer jinjing, serba mudah tanpa gelombang radio yang terkadang susah menemukan lagu yang diinginkan dan tak harus berlama menunggu penyiar bercerita.

Dulu waktu masih remaja, sangat menyenangkan mendengarkan siaran radio tentang curhat para pendengar yang dibacakan oleh penyiar radio. Segmen yang dituju tentu saja kaum muda dan remaja. Saya dan teman-teman kadang mendengar siaran ini di pos ronda, sambil ngobrol, sambil bawa radio untuk didengarkan bersama.

Suara penyiar yang lirih, mendayu, diiringi lagu Caransary dari Kitaro makin membawa pendengar pada suasana yang hening, romantis. Kata demi kata terucap, membaca surat dari pendengar yang ingin curhat. Tak selalu curhatan sedih, ada juga curhatan bahagia, kebanyakan yang di curhatkan adalah perihal cinta, entah itu putus, jadian, jatuh cinta, dan sebagainya.

Apakah saya pernah mengirimkan surat juga?, ya, saya pernah mengirimkan curahan hati saya agar dibacakan dalam acara itu. Tapi sayangnya saya tak mendengarkan secara langsung saat surat saya tersebut dibacakan. Entah dibacakan atau tidak, saya tidak tahu.

Perkembangannya sekarang tentu saja berbeda, lama sekali saya tak mendengarkan siaran radio, soalnya sekarang serba praktis, ingin dengar musik, baca berita, semua mudah dengan berkembangnya teknologi dan semakin memasyarakatnya teknologi tersebut. Sangat mudah menemukan orang-orang yang curhat lewat status mereka di media sosial, banyak yang tak sungkan menuliskan kisah mereka dalam tulisan di blog. 

Meski demikian, bagi saya "kenikmatan" yang dirasakan tetap saja berbeda. Mendengarkan curhatan di radio lebih terasa, lebih menghayati, dan lebih membuat penasaran. Bandingkan dengan status di media sosial yang sering terlalu lebay, membacanya saja terkadang enggan.

Hubungan Ratna Rahayu Pitriaty Dengan Ariel Noah

Iseng baca-baca di merdeka.com, menemukan judul berita yang membuat penasaran, soalnya yang muncul disana nama seorang perempuan yang masih sangat asing bagi saya, Ratna Rahayu Pitriaty. Apalagi yang muncul dalam judul berita tersebut ada embel-embel kata cantik. Lalu, siapa sebenarnya dia?.
Ratna Rahayu Pitriaty lurah sadang serang bandung
Ratna Rahayu Pitriaty. ©2014 Merdeka.com/andrian salam
Kalau bicara soal wanita cantik barangkali bukan hal yang aneh, banyak wanita cantik yang menjadi sumber berita. Kalau dia jadi sumber berita, tentu saja ada sesuatu yang membedakan dengan wanita cantik lainnya. Bagi yang sudah tahu mungkin ini bukan kabar baru lagi, tapi bagi saya yang tidak update berita mendengar nama Ratna Rahayu Pitriaty merupakan hal yang baru. Wanita 31 tahun yang berparas cantik ini merupakan seorang lurah di Sadang Serang Bandung.

Lalu, apa hubungannya dengan Ariel Noah?, kalau hubungan secara langsung tidak ada, cuma dari berita yang saya baca, dia adalah salah satu penggemar dari Ariel Noah. Apa sih yang membuat dia mengidolakan Ariel?. Kalau alasan yang standar dan merupakan alasan umum bagi kaum wanita yang mengidolakan Ariel tetu saja dari ketampanan Ariel. Namun ibu lurah punya alasan yang lainnya, selain alasan yang mendasar tersebut.

Kata Bu Lurah pada merdeka.com:
"Saya lihat dia seorang penyanyi yang baik. Performa keren banget. Performa bagus. Katanya warna rambutnya jadi silver ya, aku enggak tahu lagi," ucapnya tertawa.
Ya, selain Ariel, Ratna juga mengidolakan penyanyi luar negeri, Maher Zein. Dia kagum dengan karya si bule dalam menulis lirik lagu religi. Selain itu, tentunya karena wajah tampan Maher Zein. Barangkali Anda juga punya kesamaan idola dengan Bu Lurah cantik ini?. Kalau saya tentunya berbeda soal idola. Sekarang sudah jelas bukan apa hubungan antara Ratna Rahayu Pitriaty dengan Ariel Noah?, sebatas idola dan pengidola. Begitulah.

Pengalaman Bayar Pajak Motor Di Samsat Purbalingga

Mempunyai sepeda motor memang asik tidak asik, soalnya banyak konsekuensi dan tanggung jawab yang harus dipikul, dan sebenarnya itu adalah hal yang wajar. Selain harus merawat secara rutin, salah satu yang menjadi tanggungjawab setiap tahunnya adalah membayar pajak agar lebih nyaman saat mengendarai motor tersebut. Soalnya bisa menjadi masalah kalau sampai telat membayar pajak karena bisa kena tilang karenanya.

Sebenarnya tak masalah, itu adalah kewajiban sebagai warga negara. Namun permasalahannya, terkadang birokrasi yang terkadang rumit membuat orang menjadi enggan saat harus bayar pajak motor. Maka tak jarang orang lebih suka titip pada "orang dalam" atau titip bayar pada biro jasa yang siap membantu, tentu saja dengan membayar uang jasa. 
Kantor UP3AD / Samsat Purbalingga (http://bralingplaces.blogspot.com)
Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari Jum'at tanggal 22 Agustus 2014, saya juga membayar pajak motor sendiri ke Samsat Purbalingga. Ini adalah pengalaman pertama saya membayar pajak di Samsat Purbalingga, karena sebelumnya saya beberaa kali bayar pajak langsung tapi di Samsat Klaten, tempat asal saya.

Sebelum berangkat, saya berfikir dan membayangkan kalau proses membayar pajak ini akan lama, soalnya saya berkaca pada pengalaman sebelumnya saat saya pernah bayar langsung di Samsat. Tapi ternyata ketakutan saya tidak terjadi, tak sampai 30 menit proses bayar pajak motor saya selesai.

Saya berangkat dari rumah tidak terlalu pagi, perjalanan dari rumah di Bobotsari sampai Samsat kurang lebih 30 menit, pukul 09.15 WIB saya sampai Samsat. Berhubung baru pertama, saya masih agak bingung, dari mana saya memulai proses administrasi. Setelah beberapa saat melihat wajib pajak lain, akhirnya saya ikut juga dengan dia, memulai dari loket yang sama.
  • Registrasi ambil formulir pembayaran pajak dengan menyertakan STNK+KTP asli. (Gratis)
  • Foto kopi BPKB, STNK, KTP, masukkan dalam stop map. Tidak lupa berkas asli juga dimasukkan didalam map.
  • Masukkan berkas kebagian cek kelengkapan dan pengambilan nomor antrian
  • Menunggu panggilan sesuai nomor antrian, bayar pajak
  • Tunggu beberapa saat, menunggu panggilan untuk ambil STNK yang sudah distempel+tanda tangan+bukti pembayaran untuk tahun berjalan
  • Selesai

Menurut saya proses termasuk cepat, keluar Samsat jam 09.45 WIB, kurang lebih 30 menit proses mulai masuk halaman Samsat sampai keluar dari parkir dihalaman Samsat. Perlu diketahui, banyak antrian juga saat saya melakukan pembayaran tersebut. Andai saja semua sudah saya siapkan semua dari rumah dan sudah tahu loket mana saja yang saya tuju, mungkin prosesnya akan lebih cepat, soalnya saya masih harus melihat dan bertanya dulu, dan antri juga untuk beli map karena saya lupa tak membawanya.

Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri

Masih dibulan Syawal, sebelumnya saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H bagi Anda umat muslim. Meski sebelumnya terjadi gesekan-gesekan sosial karena adanya pemilu presiden, dan sampai kini aroma persaingan masih terasa karena proses persidangan masih beleum kelar di MK. Tak soal, semua bukan permasalahan yang mendasar bagi saya, siapapun presidennya tetap saya sendiri yang harus memperjuangkan perubahan dalam hidup. Sekarang kita sudah rayakan kemenangan bersama dalam momen Idul Fitri.
Ketupat dalam bahasa jawa disebut Kupat (Kulo Lepat)
Ketupat Lebaran
Idul Fitri memang saat spesial, saat inilah waktu yang "tepat" untuk dapat berkumpul dengan keluarga, makanya tak mengherankan kalau orang yang merantau akan mudik hanya untuk "sekedar" berkumpul dan bersilaturahmi dengan sanak keluarga. Spesial, sangat spesial momen lebaran di Indonesia, karena mungkin hanya di negeri inilah ada tradisi mudik, tak mengherankan bila lebaran identik dengan mudik dan kemacetan arus lalu lintas.

Masihkah Anda Mengirim Ucapan Lebaran?

Tak bisa dipungkiri kalau momen lebaran akhir-akhir ini kalah meriah dibandingkan lebaran jaman dulu, tepatnya masa sebelum teknologi memasyarakat. Dengan kecanggihan teknologi dengan mudahnya orang mewakilkan kehadiran mereka lewat telfon, SMS, BBM, email, dan sejenisnya. Tak perlu menunggu lama, dalam hitungan detik pesan yang disampaikan sudah sampai kepada yang dimaksud.

Dulu orang harus sedikit repot jika ingin mengirimkan ucapan, biasanya lewat kartu ucapan yang dikirm lewat pos. Keberadaan teknologi yang canggih sekarang ini sedikit banyak mengurangi greget dari silaturahmi, meskipun secara substansi (menurut saya) tak jauh beda dengan bertemu langsung, meskipun secara bobot mungkin berbeda.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H
Mohon Maaf Lahir & Batin

Kurang lebih demikian SMS yang saya kirimkan kepada ratusan nomor teman dan saudara yang ada di HP saya. Saya tak sepenuhnya berharap akan balasan SMS, karena itu hak dari masing-masing orang, tapi minimal saya sudah mewakilkan kesungguhan saya untuk mengucapkan selamat hari raya dan memohon maaf atas kesalahan yang saya perbuat, sengaja maupun tidak. Karena memang saya belum bertemu dengan mereka yang saya kirim SMS tersebut, kalau setelah SMS itu terkirim dan saya bertemu dengan mereka, saya juga akan mengucapkan selamat hari raya dan memohon maaf atas segala kesalahan, secara langsung.

Substansi dari kiriman ucapan lebaran, baik itu lewat SMS, kartu ucapan, atau lewat media lain memang ucapan selamat hari raya dan permohonan maaf, tapi menurut saya lebih dari itu. Selain ajang silaturahmi, dengan berkirim ucapan bisa mengingat kembali teman yang mungkin lama tak berkomunikasi. Toh kalau ada kesempatan bertemu juga akan melakukan hal yang sama, daripada tidak mengirimkan ucapan sama sekali, langsung maupun tidak langsung.

Barangkali apa yang saya sampaikan ini tidak sepenuhnya benar, semua tergantung pada sudut pandang masing-masing orang. Apapun itu, semoga ada hikmah dari apa yang kita sikapi dalam merayakan hari raya Idul Fitri ini. Jadi, masihkah Anda mengirimkan ucapan selamat hari raya?. Kalau saya, masih.