Tempat Jual Beli Ide

Bagi Anda yang pernah menjumpai posting di blog tentang keluhan ketiadaan ide, saya yakin, Anda pasti sedang dibohongi saat itu. Karena mereka yang menulis tentang tidak punya ide untuk menulis posting blog, ternyata dengan lancarnya menuliskan ketiadaan ide kedalam sebuah tulisan. 

Ide merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan ini, ada banyak faktor yang terkadang bergantung dengan ada tidaknya sebuah ide. Namun, tak sedikit yang mengeluhkan adanya ketiadaan ide, karena memang ada banyak sebab yang berpengaruh terhadap ide ini. 

Misalkan saja ada toko atau pasar tempat jual beli ide, barangkali akan laris dengan pembeli. Saya pun berandai-andai, misalkan saja saya punya banyak ide, saya akan menjualnya, saya akan membuka sebuah warung yang khusus berjualan ide. Karena saya sendiri merasa bahwa terkadang saya butuh ide-ide baru, apa yang ada dikepala terkadang terasa usang. Jadi, barangkali apa yang saya rasakan juga dirasakan juga oleh orang lain.

Ah, perandaian saya mungkin kelewat jauh. Tapi tak ada salahnya, karena terkadang orang tak menyadari bahwa ide berseliweran di kepala, namun terlambat untuk menangkapnya. 

*****
Ups... saya lupa, ternyata sekarang sudah sangat banyak jasa 'penjual ide', misalnya jasa rancang bangun, arsitektur, konsultan permasalahan rumah tangga, dan masih banyak lagi jasa 'penjual ide' yang lainnya. Hanya saja tidak ada keterangan atau tulisan kalau penyedia jasa tersebut menjual ide. :)

Anak-Anak Itu Tidak Sekolah

Seorang bocah terdiam, dengan pakaian lusuh dia menatap kearah anak-anak yang sedang bermain riang di sebuah sekolahan. Tangannya terlihat lelah, karung yang berisi kardus, kertas, dan botol minuman diletakkannya ditanah. Perlahan dia mendekat ke pagar sekolah itu, dengan wajah kusut, nampak sesekali dia turut tersenyum melihat polah anak-anak sebayanya itu.

Ya, anak itu adalah seorang pemulung dari anak seorang pemulung juga. Dia tak bisa melanjutkan sekolah, dia hanya sampai dikelas dua sekolah dasar, karena tak punya biaya akhirnya dia tak bisa melajutkan pendidikannya. Dia harus menerima kenyataan, dia sudah harus bergelut dengan kerasnya hidup, dia harus memeras tenaga dan otak untuk sekedar mencari barang bekas untuk menyambung hidup, dia harus rela kehilangan masa kanak-kanaknya.

Belum selesai dia menikmati suasana sekolah, tiba-tiba bel berbunyi, anak-anak itu harus kembali masuk keruang kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Anak itu nampak kecewa, dia melangkahkan kaki untuk kembali mencari barang-barang bekas. Nampak didepan sekolah itu terpampang sebuah baliho besar, nampak jelas terbaca, 'bebas biaya SPP'. Tapi iklan itu tak bermanfaat bagi anak tersebut, sedangkan untuk sekolah, buat makan saja kadang tak teratur.

Dalam langkahnya, anak itu mengambil secarik kertas yang ada disebuah tong sampah, sebuah sobekan UUD 45 hasil amandemen, tepatnya pasal 31 yang tertulis dalam kertas itu. Meski hanya sampai kelas dua SD, namun dia sudah bisa membaca meski sedikit terbata, seperti biasanya, dia sering membaca koran bekas atau tulisan apa saja yang dia dapatkan, termasuk sobekan UUD 45 yang dia peroleh dari tong sampah itu:

Pasal 31
(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. 
(2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. 
(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undangundang.
(4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurangkurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. 
(5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilainilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Selesai membacanya, sobekan kertas tersebut dimasukkan kedalam karung yang dia sandang di bahunya. Dia sudah tak lagi peduli dengan apapun, baginya sekolah hanya sebuah harapan, meski dia tak berhenti berharap, namun dia juga realistis bahwasannya pendidikan hanya untuk mereka yang mampu dan punya uang, dia menganggap tulisan yang baru saja dia baca hanyalah sebuah tulisan, tak lebih.

*****
Selamat Hari Pendidikan Nasional
*****

Nilla Gustian, Tiba-Tiba Saja Saya Mengingatnya

Entah, tiba-tiba saja saya teringat seorang teman yang saya kenal lewat blog, ketika saya membaca pada blogroll terhenti pandangan pada sebuah link blog yang dulu berkali saya mengunjunginya. Saat masih sering blogwalking dulu saya sempat kenal dia, ya, mbak Nilla Gustian yang punya blog Aku Ingin Pulang Di Kala Senja. Meski belum pernah ketemu langsung, tapi serasa "dekat", saya tidak lupa sampai saat ini.
Aku Ingin Pulang Di Kala Senja
Seperti ada "kerinduan", ketika saya membuka blognya, saya langsung mendapati sebuah tulisan yang membuat saya merinding, sungguh, saya merasakan sesuatu yang berbeda pada diri saya. Rasa yang menggugah, bercampur tak karuan rasa dalam hati saya. Kematian, demikian judul tulisan yang dipublikasikan pada tanggal 3 April 2012, setahun yang lalu. Berikut ini saya kutipkan tulisannya:

Kematian hanya sebuah perlintasan menuju hidup yang sesungguhnya.

Bukan sekumpulan riuh duka yang mengalir jatuh sebagai air mata.

Meski tak dipungkiri, selalu ada air mata di sana.

Setahun sudah blog tersebut tidak di update, rupanya mbak Nilla Gustian sedang hiatus menulis. Kemudian saya mencari teringat sebuah arsip tulisan di blog ini, dan saya menemukan satu posting Award: Aku Ingin Pulang Di Kala Senja, disana tertulis sedikit penafsiran saya tentang blog mbak Nilla, berikut:

Aku ingin pulang dikala senja. Sebuah kecintaan pada satu waktu yang meng-analogikan jalinan cinta kasih antar tautan waktu.
Ketika perjalanan hampir sampai di jeda, terik berlalu bersama angin yang menyisir, pantulan cahaya emas membiaskan cerita penghantar mimpi. Kembali ke sujud, bersyukur pada Pemilik Kehidupan.

Ah, rupanya saya terhanyut. Buat mbak Nilla Gustian, mohon maaf bila kurang berkenan dengan tulisan ini, bagaimana kabarnya?, kapan update posting lagi?. :)

Pararaton, Integrated Social Media Indonesia

Pararaton, mendengar kata tersebut mungkin yang terbayang dalam benak Anda adalah nama sebuah kitab, atau serat, yang diambil dari bahasa Kawi yang artinya kitab raja-raja atau juga dikenal dengan nama "Pustaka Raja". Namun, yang saya maksud disini bukan itu, tapi nama sebuah social media di Indonesia, mungkin masih asing bagi Anda, demikian pula dengan saya awalnya, karena memang web tersebut baru resmi diluncurkan pada tanggal 4 Maret 2013.

Pararaton adalah web karya anak bangsa yang saat ini masih dalam tahapan beta, dalam beberapa waktu kedepan rencananya akan diluncurkan versi berikutnya, yang tentu saja akan ditambah menarik, baik fitur-fitur yang ada, dan mungkin saja berikut dengan desainnya. Anda bisa mengunjuginya di www.pararaton.com untuk mengetahui lebih jauh tentang web tersebut. Dalam web tersebut ada 4 section yang bisa di explore oleh users antara lain:
  • Papyrus (kumpulan artikel berita)
  • Posh (kumpulan tutorial/image seperti Pinterest)
  • Clique (tempat berinteraksi dengan teman dan menciptakan komunitas)
  • Pararaton (album pribadi users bisa berisi daftar keinginan, diary tutorial, artikel atau Clipping)
Dengan berbagai macam fitur dan kemudahan yang ditawarkan tersebut, Pararaton layak menjadi 'tempat nongkrong' dan bersosialisasi dengan teman, saudara, atau rekan kerja. Kita bisa mencari teman baru, menciptakan komunitas, berbagi foto dan banyak hal lainnya. Meski belum lama bergabung, namun saya merasakan perbedaan bila dibanding dengan media sosial yang sudah ada sebelumnya. Untuk bergabung di Pararaton tidak dipungut biaya alias gratis. 

Jadi, tunggu apa lagi?, buruan bergabung dan ajak teman-teman Anda pula di Pararaton, jejeraring sosial karya anak bangsa. Kalau sudah bergabung, jangan lupa follow add saya di http://www.pararaton.com/sukadi. Sampai ketemu di Pararaton, ya. :)

Mengeluh Sakit Pinggang Pada Pak SBY

Bukan sebuah rahasia lagi kalau saat ini Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mempunyai akun twitter (@SBYudhoyono), meski belum menjadi follower beliau, kebetulan tadi saya mendapat sebuah referensi link dari teman mengenai salah satu 'kicauan' beliau di twitter. Ya, saya membaca salah satu tweet dari Pak SBY mengenai penyaluran dan penggunaan pupuk. Banyak tanggapan disana, tentu saja ada yang serius dan ada yang cuma sekedar "numpang berkicau" saja. 
Ada salah satu 'kicauan' yang membuat saya tersenyum geli, karena memang jauh dari topik penyaluran dan penggunaan pupuk. Rupanya ada yang memanfaatkan keberadaan akun twitter Pak SBY untuk mengeluhkan kondisinya, ya, ada yang mengeluh sakit pinggang pada Presiden RI. Ada juga yang bertanya tentang ujian nasional, menyamakan kertas lembar jawaban dengan bungkus nasi padang.
Entah serius atau tidak, tapi saya meganggap kicauan-kicauan keluhan atau pertanyaan tersebut sesuatu yang wajar. Mungkin ini hanya sedikit dari sekian kicuan lain yang berisi keluhan-keluhan dan juga pertanyaan-pertanyaan buat presiden mereka. Apapun itu, diluar konteks serius atau tidak, sekiranya bisa menjadi sebuah gambaran, bagaimana rakyat Indonesia menyikapi kondisi negeri ini. Bagaimana dengan Anda?. :)