Ibuku Mampu Menjawab Matematika Kehidupan

Hidup adalah sebuah misteri yang tak seorang pun yang mampu untuk memastikan apa yang akan terjadi dimasa depan. Manusia boleh berharap dan berencana, namun tak seorang pun yang mampu untuk memastikan kalau rencana dan harapan itu dapat terwujud. Namun, bila Tuhan sudah berkehendak, tak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Aku tuliskan cerita ini dengan harapan agar mampu memberikan inspirasi bagi diriku sendiri dan bagi siapa saja yang berani mengubah hidupnya bahkan lingkungannya. Cerita ini sebenarnya terlalu pendek jika harus diuraikan dengan kata-kata, kisah dimana ibuku tercinta jatuh bangun demi kami anak-anaknya. Aku merasa tak ada yang kulebihkan dari cerita ini, bahkan aku merasa banyak yang kurang dari apa yang sebenarnya terjadi.
Lebaran 2011
Aku adalah anak dari keluarga biasa, berkecukupan, karena memang dengan merasa cukup kami tak merasa kurang secara ekonomi. Aku anak kedua dari tiga bersaudara, kakakku laki-laki, dan adikku perempuan. Bapakku dulu adalah seorang tukang yang cukup punya nama di desaku dan juga di desa sekitar. Ibuku mempunyai sebuah warung yang menyediakan sembako dan aneka kebutuhan rumah tangga lainnya. Keluarga kami menggarap beberapa petak sawah yang hasilnya kala itu masih lumayan. Ya, aku merasa lebih beruntung bila dibandingkan dengan anak-anak sepermainanku.

Entah apa rencana Tuhan terhadap kami, belum puas kami nikmati kebersamaan, tiba-tiba saja bapakku sakit. Singkat cerita, ternyata Tuhan "memanggil" bapak. Pada bulan Agustus tahun 2002 bapakku meninggal dunia karena sakit, pada saat itu kakakku kuliah semester tujuh, aku sendiri kuliah semester tiga, sedangkan adikku masih duduk di bangku SMA.

Ketika itu kami tidak tahu, apakah nantinya kami bisa meneruskan atau bahkan meluluskan kuliah dan sekolah kami. Secara matematika dapat diperhitungkan bahwa mungkin saja kami tidak akan selesai dalam pendidikan. Kami sudah tak berharap banyak pada waktu itu, hanya kepasrahan yang tergambar di fikiran kami. Seperti yang aku tuliskan diatas, ibuku hanya penjual kebutuhan rumah tangga disebuah warung ditengah kampung, dan hanya beberapa petak sawah yang dulu dibeli sistem tahunan yang masih tersisa sebagai pengharapan keluarga kami. 

Namun tidak bagi ibuku, tak ada matematika yang tak terjawab, karena Tuhan pasti tak pernah tidur dan selalu setia dengan cinta-Nya. Demi kami anak-anaknya, beliau korbankan segalanya, pagi-pagi sudah bangun untuk masak, jam 06.30 beliau berangkat kepasar yang jaraknya kurang lebih 3 km dengan bersepeda, jam 09.30 beliau pulang dengan membawa belanjaan yang begitu berat. Bagi beliau tak ada kata istirahat, walau kadang mengeluh lelah, tapi tak pernah beliau hiraukan. Selepas Dzuhur, kira-kira jam 13.00 beliau pergi ke sawah, mengurus sawah sampai jam 17.00, bahkan sampai menjelang maghrib. Begitu terus keseharian beliau.

Saat-saat yang sangat memilukan bagiku adalah ketika harus ujian semester, aku tak tega kalau mau minta uang sama ibu. Karena pada saat itu uang semesteran harus lunas, kakakku juga harus bayar semesteran, belum lagi kalau pas waktunya bayar uang kost, rasa-rasanya ingin aku keluar saja dari bangku kuliah. Tapi tekat kuat ibu dalam mencari nafkah seperti melarang, beliau tetap tegar dan bertekad untuk menyelesaikan pendidikan anak-anaknya.

Pohon jati yang ada dipekarangan kami bisa jadi saksi, ketika dulu saat harus membayar semesteran pohon itu dijual untuk membayar uang kuliah, kebetulan yang membeli pohon itu adalah tetangga dan bisa ditebang sesuai kebutuhan. Atau sepeda onthel tua yang digunakan ibu untuk kepasar dan aktifitas lain sampai sekarang masih ada. Aku bangga pada ibuku, karena ibuku bukan wanita lemah, beliau begitu tegar, dengan cintanya beliau bertekad meluluskan anak-anaknya, meski harus banting tulang pagi sampai malam.
Ibuku Mampu Menjawab Matematika Kehidupan
Sepeda Onthel Saksi Sejarah
Tak ada jalan yang tak berujung, tak ada usaha yang tak berbuah, tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Dengan tekad, keikhlasan, dan demi cinta seorang ibu kepada anak-anaknya, akhirnya Tuhan memberi jawaban atas matematika yang sulit itu. Satu persatu cita-cita terwujud, kakakku lulus jadi sarjana, kemudian menyusul aku di wisuda, dan adikku dapat menyelesaikan pendidikan SMA.

Mungkin saja bagi orang lain semua ini bukanlah apa-apa, mungkin orang menganggap semua ini hanyalah kebetulan saja. Tapi apakah pernah terbayangkan, seorang ibu dengan sendirian menghidupi tiga orang anak, bertindak sebagai seorang ibu dan sebagai kepala rumah tangga?. Apakah dapat dirumuskan bagaimana matematikanya seorang janda yang hanya menggarap sawah dan punya warung kecil mampu meluluskan dua orang sarjana dan seorang anak dari bangku SMA?.

Semua ini atas kuasa Tuhan, cinta-NYA begitu besar, tak akan ada apa-apanya jika usaha yang dilakukan ibuku tanpa ada ridho dari-NYA.

Sekarang ibuku sudah bisa bernafas lega, anak-anak yang dibesarkan dan diperjuangkan dengan sepenuh cinta telah menemukan jalan masing-masing, belajar dari keikhlasan dan perjuangan seorang ibu yang begitu luar biasa. Kakakku menikah saat ini dikaruniai dua orang anak, tinggal di Semarang. Aku menikah dan baru dikarunia seorang anak, saat ini berdomisili di Purbalingga. Dan adikku menikah dikarunia dua orang anak, saat ini tinggal di Klaten, dekat dengan ibuku.

Untuk ibuku: Ibu, tak ada apapun didunia ini yang mampu membalas semua keringatmu, tak ada nilai rupiah yang mampu melunasi hutang kami padamu. Hanya Tuhan yang tahu, balasan yang pantas untuk semua pengorbananmu. Terimakasih ibuku sayang ...


Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera.

Sakitnya Tuh Disini: Lagu Untuk Segala Kondisi

Sakitnya Tuh Disini: Lagu Untuk Segala Kondisi
Cita Citata / img: citra-ciki.blogspot.com
Saya tak meragukan kalau Anda yang membaca tulisan ini hampir semuanya pernah mendengar lagu dari Cita Citata yang judulnya Sakitnya Tuh Disni. Benar, bukan?, kalau salah berarti saya keliru berpersepsi. Saking seringnya saya mendengar, terkadang saya merasa ikut suka, meskipun hanya di bagian reff-nya saja.

.......
Sakitnya tuh di sini Di dalam hatiku
Sakitnya tuh di sini Melihat kau selingkuh
Sakitnya tuh di sini Pas kena hatiku
Sakitnya tuh di sini Kau menduakan aku
.......

Saya tidak sedang merasakan sakit hati, saya juga tidak diselingkuhi atau diduakan seperti apa yang tertulis dalam lirik lagu tersebut. Makanya, saya hanya suka sebatas suka pada musik dan lagu pada keseluruhan, bukan pada kandungan lirik lagu tersebut.

Kemudian, dalam perkembangannya di orang banyak, tidak sedikit yang memparodikan kata sakitnya tuh disini dalam berbagai tempat, bukan hanya didalam hati seperti lagu tersebut. Dengan mudahnya orang sakit kepala akan memegang kepala sambil bernyanyi sakitnya tuh disini... Orang sakit gigi akan memegang pipi sambil bernyanyi sakitnya tuh disni... Dan sebagainya, dan seterusnya...

Perkembangan semacam ini sangat wajar, bukan hanya kali ini dan dalam lagu ini saja. Yang namanya penikmat, apapun kalau dirasa nikmat pasti akan dinikmati, tak terkecuali sebuah lagu yang bisa ditempatkan dalam bermacam situasi dan kondisi. Hanya saja, apa yang tertulis dalam sebuah lirik lagu hendaknya juga lebih selektif lagi dalam mencernanya, jangan hanya asal cerna dan asal suka saja.

Ada banyak lagu yang menurut saya liriknya kurang mendidik dan kurang mencerminkan "orang timur", beberapa pernah saya tulis disini, salah satunya lagu Ga Jaman Punya Pacar Satu. Saya tidak menyalahkan orang berkreatifitas, smua adalah hak masing-masing orang untuk membut lirik dan menciptakan sebuah lagu. Namun, saya juga punya hak untuk tidak suka dan mengkritisi lagu tersebut, enak, bukan?. 

Baiklah nikmati saja lagu dari Cita Citata, Sakitnya Tuh Disini, tunjuk/ pegang mana yang sakit dari diri Anda, dan nyanyikan sesuai kondisi Anda saat ini.

Belanja Istimewa di Lazada Saat Hari Belanja Online Nasional (HarBolNas)

Belanja merupakan kebutuhan hampir setiap orang, karena masing-masing orang mempunyai kebutuhan yang berbeda setiap harinya. Tak melulu belanja secara konvensional, namun saat ini sudah sangat biasa menjumpai orang yang melakukan transaksi belanja lewat internet atau yang biasa disebut dengan istilah belanja online. 

Sudah saya tuliskan beberapa kali di blog ini tentang beberapa situs toko online yang menawarkan berbagai macam kemudahan, salah satunya adalah Lazada. Ya, dari pengalaman saya, belanja di Lazada.co.id mempunyai banyak keuntungan, selain mudah dan murah tentunya.

Bagi yang belum tahu mengenai Lazada, barangkali sedikit saya jelaskan bahwa Lazada Indonesia merupakan toko online terbesar yang ada di Indonesia. Banyak produk yang dijual disini, mulai dari elektronik, kesehatan, peralatan rumah tangga, fashion dan kecantikan, dan berbagai jenis produk lainnya. 
Perlu diketahui bahwa di Indonesia juga ada satu hari yang diperingati sebagai hari belanja online nasional. Ya, Hari Belanja Online Nasional (HarBolNas) adalah satu hari khusus (12 Desember) ketika para peritel yang berpartisipasi akan memberikan diskon-diskon serta promosi menarik bagi pembelanja. Dan salah satu inisitor yang berpartisipasi adalah toko online terbaik di Indonesia, Lazada.

Dari informasi yang saya baca, selain untuk memanjakan konsumen, peretail online juga menjadikan ajang ini untuk memajukan e-commerce dan mengedukasi publik tentang kemudahan belanja online. Hari belanja online nasional berawal dari diskusi informal beberapa pemain e-commerce besar Indonesia sambil lalu. Setelah itu, timbul ide untuk memilih satu hari khusus sebagai hari belanja online nasional. 

Di hari tersebut, sejumlah peretail yang berpartisipasi aktif mempromosikan serta memberikan diskon dan promosi menarik bagi pembelanja, mirip dengan Cyber Monday di Amerika Serikat atau 11.11 di Cina. 

Kembali lagi soal toko online yang saya singgung diatas, Lazada sebagai inisitaor adanya hari belanja online nasional, dan tentu saja sebagai peserta yang berpartisipasi dalam rangka perayaan 11.11 dan Online Revolution Month, memberikan berbagai penawaran menarik yang diluncurkan oleh Lazada Indonesia, antara lain:
  • '12 hours of Flash Sale' yang menampilkan 12 produk terbaik setiap jam-nya mulai pukul 11 pagi hingga pukul 11 malam
  • 'Sensational Thursday' yang menawarkan deals sensasional bagi pengguna XL setiap hari Kamis mulai tanggal 13 November 2014
  • Deals terbaik di Indonesia selama 1 bulan penuh 
  • dan masih banyak lagi!
Bagaimana, menarik, bukan?. Bagi yang belum pernah mencoba berbelanja online, atau bagi yang suka berbelanja online, momen peringatan hari belanja online nasional merupakan saat yang tepat untuk mencoba dan memuaskan keinginan untuk berbelanja. Karena dengan besarnya diskon dan berbagai macam penawaran menarik lain yang ditawarkan oleh Lazada Indonesia akan memanjakan bagi para konsumen. Manfaatkan kesempatan yang hanya setahun sekali ini, meski dihari biasa Lazada juga menawarkan banyak diskon dan penawaran menarik, namun momen hari belanja online nasional (HarBolnas) merupakan saat istimewa bagi para konsumen. Selamat berbelanja di Lazada Indonesia.

Kerling Mata Sengkuni

Bagi Anda yang sering mingikuti serial Mahabharata di televisi, tentu sudah tidak asing lagi dengan tokoh antagonis yang bernama Sengkuni. Ya, raja Gandhara yang terkenal licik dan suka menghasut. Saya sendiri tidak mengikuti serialnya, namun dulu waktu masih kecil sering nonton serial serupa namun dengan pemeran yang berbeda. 
Sengkuni versi televisi / www.startv.in
Sebenarnya bukan hanya lewat serial Mahabharata yang tayang ditelevisi saja orang tahu siapa Sengkuni, karena sebagian orang jawa generasi dulu sering mendengar cerita mengenai Pandawa dan Kurawa, entah lewat orang tua, pelajaran sekolah, atau lewat pertunjukan wayang. Meskipun katanya ada beberapa versi berbeda, namaun perwatakan Sengkuni tetaplah sama. Tak perlu saya bahas lebih banyak tentang Sengkuni, karena kedangkalan pengetahuan saya, yang jelas, seperti itulah perwatakan Raja Gandhara.
Sangkuni, atau yang dalam ejaan Sanskerta disebut Shakuni (Dewanagari: शकुनि; IAST: Śakuni) atau Saubala (patronim dari Subala) adalah seorang tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan paman para Korawa dari pihak ibu. Sangkuni terkenal sebagai tokoh licik yang selalu menghasut para Korawa agar memusuhi Pandawa. Ia berhasil merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa melalui sebuah permainan dadu. Menurut Mahabharata, Sangkuni merupakan personifikasi dari Dwaparayuga, yaitu masa kekacauan di muka Bumi, pendahulu zaman kegelapan atau Kaliyuga. 
Dalam pewayangan Jawa, Sangkuni sering dieja dengan nama Sengkuni. Ketika para Korawa berkuasa di Kerajaan Hastina, ia diangkat sebagai patih. Dalam pewayangan Sunda, ia juga dikenal dengan nama Sangkuning. [Wikipedia]
Dalam kehidupa nyata, banyak orang yang diidentikkan dengan Sengkuni, hal ini tak lepas dari pembawaan dan sifat yang mungkin saja tak jauh beda. "Senengane ucuk-ucuk kaya Sengkuni". Demikian ungkapan dalam Bahasa Jawa yang sering saya dengar didaerah saya, ucuk-ucuk kuranglebih berarti menghasut, mengadu domba, memprovokasi, dan yang sejenisnya.

Tak perlu saya contohkan siapa, didunia maya banyak tokoh yang disebut-sebut sebagai Sengkuni, soal kebenarannya biar publik yang menilai. Mengacu pada serial Mahabharata yang sedang digandrungi saat ini, melihat peran Sengkuni memang terkadang bikin geregetan pemirsanya, satu yang menjadi ciri khas, kerling mata yang menggambarkan hasutan dan kelicikan, pertanda akan muncul ide licik dari tokoh antagonis ini.

Apapun itu, Sengkuni hanyalah tokoh antagonis yang dalam kehidupan nyata pastilah ada. Kalau Anda suka melihat tayangan serial ini, tokoh Sengkuni bis dijadikan contoh, betapa orang-orang semacam ini memang ada dalam kehidupan. Jangan ambil contoh buruknya, tapi sebisa mungkin kita menghindari peringai buruknya dan lebih berhati-hati jangan sampai kita bergaul atau berwatak seperti Sengkuni, paman dari Kurwa, raja dari Ghandara.

Bermain Dengan Kata: Sapu

Bicara tentang sapu, yang terbayang oleh kita pastilah sapu yang digunakan untuk membersihakan sampah atau kotoran, bisa sapu lidi atau sapu jenis lainnya. Tak salah, memang pengertiannya demikian, sapu adalah alat yang digunakan untuk bersih-bersih.
Sapu adalah salah satu alat pembersih yang terdiri dari bagian serat atau serabut kaku dan biasanya terpasang atau terikat kepada suatu pegangan silindris.
Bentuk sapu hampir selalu mengalami perubahan mulai dari bahan ranting-ranting pohon hingga seikatan serat-serat alami. Pada mulanya, sapu memiliki bentuk bulat, bentuk yang mudah dibuat tapi kurang efisien untuk melakukan pembersihan. Sapu dapat diikatkan ke sebuah pegangan, baik yang pendek untuk pembersih debu, maupun panjang untuk menyapu lantai atau perapian. [wikipedia]
Dalam penggunaannya, kata sapu berkembang menjadi begitu banyak kiasan makna. Sering kita dengar komentator olah raga sepak bola yang menyebut kata menyapu bola, sapu bersih laga, dan lain sebagainya. Hal ini tak bukan merupakan penggambaran kalau kata sapu menjadi identik dengan kebersihan.
Bermain Dengan Kata: Sapu
Sapu Bersih Korupsi / img: inilah.com
Dalam sebuah berita, pernah saya baca tentang angin puting beliung yang melanda Kecamatan Adipala, Cilacap. Saking banyaknya korban atau rumah yang terkena imbas, maka kata sapu dijadikan sebagai sebuah penggambaran: Angin Puting Beliung Sapu Adipala. Mungkin terlalu berlebihan, karena hanya sebagian saja yang luluh lantak, namun tidak juga keliru, soalnya tak selalu menyapu itu bisa bersih.

Kain kecil sebagai penyeka keringat, biasa disebut dengan sapu tangan. Maksud sebenarnya bukanlah sapu untuk tangan, namun kain yang digunakan untuk menyeka wajah dan anggota tubuh lain dengan menggunakan tangan sebagai penggeraknya.

Dalam sebuah puisi, sering juga ditemui penggunaan kata sapu sebagai kiasan, misalnya: 
Panas matahari menyapu seluruh tubuhnya. 
Angin berhembus menyapu wajahnya yang murung.
Tubuh mungil tersapu ombak.
Kenangan hilang tersapu masa indah

Barangkali masih banyak lagi penggunaan kata sapu untuk menggambarkan sesuatu. Kiranya apa yang berkembang dan dimaknai secara luas tersebut dapat menjadikan perbendaharaan makna semakin banyak. Kalau mau yang pasti, sapu itu untuk bersih-bersih. "Ingin kusapu bersih dukamu, sepenuh cinta kupasrahkan hatiku untukmu, masa lalu bukanlah sampah, tapi terlalu usang untuk dikenang". Demikian gombalan dari tetangga sebelah. Salam.