Indonesia Penuh Cinta

Di malam yang remang, di pos ronda, nampak dua orang setengah baya sedang asyik ngobrol. Mereka adalah Kang Gendon dan Pakde Sastro.

Kang Gendon: Sekarang kok pada ramai ngomongin soal ketegangan Indonesia sama 'negara tetangga', memangnya ada apa to Pakde?
Pakde Sastro: Memangnya sampean tidak tahu to Kang?, lha wong beritanya sudah ada dimana-mana kok.
Kang Gendon: Setahuku ya cuma so'al TKI, itupun aku dengar dari cerita teman-teman waktu ngobrol-ngobrol di sawah. Sama yang dulu itu, masalah pulau ligitan dan sipadan serta iklan yang pakai tari pendet tanpa ijin itu. Yang lainnya katanya masih ada tapi aku tidak terlalu mengikuti beritanya.
Pakde Sastro: Kalau itu sudah berita lama, yang sekarang ada lagi.
Kang Gendon: Lho, masih berani lagi to?, mau ngaku-ngaku pulau lagi?, masih mau melecehkan lagi?, memangnya mereka itu sudah ampuh apa ya?
Pakde Sastro: Nyatanya seperti itu Kang, mungkin karena Indonesia negara yang penuh cinta, tidak suka perang, pemaaf, sehingga mereka berani lancang, meremehkan, melecehkan, menginjak-injak harkat dan martabat Bangsa Indonesia.

Kupanggil Engkau Dengan Cintaku

Kupanggil engkau dengan cintaku duhai kekasih…
Biarkan sayap – sayap rindu terbang menjemput cinta kebatas angan
Biarkan hati menyanyikan kidung cinta, bercerita tentang rentang waktu yang mendewasakan rasa, dan membuka lembar – lembar catatan mimpi yang pernah terlewati
Biarkan hasrat membumbung tinggi, menggapai batas cakrawala dan melepaskan kejemuan di bayang – bayang garis fatamorgana

Kupanggil engkau dengan cintaku duhai kekasih…
Biarkan cintamu rebah sejenak, menikmati aroma wangi taman bunga yang tersembunyi di balik padang ilalang, diantara padang luas yang membentang di batas pelupuk matamu
Biarkan cinta menikmati sajak – sajak yang terlantun dari kepakan sayap kupu – kupu yang terbang di taman indah ini
Sebelum matang benar senyummu, jangan dulu engkau beranjak
Rasakanlah dengan perasaan cintamu

Kupanggil engkau dengan cintaku duhai kekasih…
Aku ingin dengan sepenuh hati menjadi setapak jalan yang akan menuntunmu kesebuah taman indah yang disana tumbuh bunga – bunga yang menebarkan wewangian
Sebuah taman yang penuh cinta, taman aroma surgawi yang di sana engkau akan temukan bahagia, sebuah kebahagiaan yang tergambar di dalam akal kewarasan

Semerbak Rindu

untuk kau yang mengisi jiwaku, aku menulis ini untukmu... cinta telah merebahkan keakuanku, dari puncak kesombonganku aku luruh, cinta telah menaklukkan rinduku pada ke-fanaan mimpi. engkau hadir saat aku mulai jemu dengan pencarian, engkau dihadirkan lewat permohonan yang berulang kali aku panjatkan. DIA ngerti apa yang terbaik untukku, walau dalam keangkuhanku mengundang ketidak mengertian: mengapa harus kau?. aku bersyukur, apapun yang telah aku dapatkan, itulah yang terbaik menurut DIA.. kau dihadirkan lewat "ritual"ku, apapun kau adanya, kini kau yang nyata ada. kau milikku untuk sekarang, dan kuberharap untuk selamanya...

Dalam Sebuah Taman

dalam sebuah taman engkau termenung, menatap sepi yang tak bertepi. jalan sunyi telah menunjukkan kepadamu tentang keindahan sebuah perenungan. bunga yang mekar pasti kan layu, daun yang hijau pasti berguguran. tak ada yang abadi, semua hanya fana.
dalam sebuah taman engkau terapung, terkubur dalam wewangian yang pasti satu saat meninggalkanmu.
dalam sebuah taman engkau terdiam, matamu memerah, mulutmu komat-kamit membaca puisi, atau, mungkin sedang menyumpahi diri...

(tidakkah kau lihat kupu-kupu yang menertawaimu?)

Tentang Hati

Sayap – sayap sepi mengepak
Dahan rindu tergoyang
Berjatuhan daun – daun
Semburat nur menerobos
Membelai dua hati yang berpagut
Dari pucuk – pucuk rindu
Mengalir cinta yang tanpa batas
Sejengkal hati yang terlewati
Adalah siksa bagi hati yang mendamba
Alangkah indah kabut ungu
Dalam temaram lampu merah jambu
Merona wajah tanpa cadar
Menyibak tirai hati
Dalam putihnya bunga – bunga