Saya, Bahasa Ibu, dan Indonesia

Sumpah Pemuda

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia
Bunyi Sumpah Pemuda diatas dibacakan di Jakarta pada 28 Oktober 1928, dimana Sumpah Pemuda merupakan tonggak dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Indonesia - Palumbungan Wetan, Bobotsari, Purbalingga
***&***

Bicara soal Indonesia, tentu tak ada habisnya, dalam banyak hal Indonesia terlalu istimewa untuk di deskripsikan. Indonesia itu terlalu besar untuk dibahas, terlalu indah untuk diterjemahkan dalam foto dan bahasa, jutaan kata pun tak mampu mewakili betapa negeri ini begitu luar biasa, Indonesia. Bersyukur saya lahir dan besar di Indonesia.

Berulang kalai saya menyampaikan dalam tulisan, kalau Indonesia itu adalah satu kesatuan. Meskipun terdiri dari berbagai macam suku, terbagi dalam pulau-pulau, terdiri dari bermacam agama, bahasa daerah yang beraneka rupa, namun bukan sebuah alasan untuk mendeskripsikan Indonesia dengan kata-kata tertentu. Indonesia itu ya Indonesia, tanpa tanda kutip.

Saya lahir dan tumbuh di sebuah desa kecil di Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di Desa Ringinputih, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten. Lahir disebuah desa yang kental dengan Bahasa Jawa logat Jogja atau Solo sedikit banyak berpengaruh terhadap sudut pandang dan persepsi saya tentan Indonesia. Dengan keberagaman bahasa di Indonesia membuat saya menjadi kagum. Saya pernah berbaur dengan bermacam dialek bahasa daerah, waktu sekolah dulu saya bergaul dengan bahasa daerah logat Klaten, dan Semarang, serta bergaul dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia saat kuliah di Solo. Ketika bekerja pun demikian, di Purworejo, Jogja, Tegal menghadirkan perbendaharaan dialek bahasa yang beraneka ragam. Hingga akhirnya setelah menikah saya berdomisili di Purbalingga yang kental dengan bahasa ngapak bayumasan-nya, namun tetap saja Indonesia masih jelas disana, Bahasa Indonesia menyatukan keberagaman itu.

Malu Berbahasa Ibu?

Bahasa ibu (bahasa asli, bahasa pertama; secara harafiah mother tongue dalam bahasa Inggris) adalah bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang. Dan orangnya disebut penutur asli dari bahasa tersebut. Biasanya seorang anak belajar dasar-dasar bahasa pertama mereka dari keluarga mereka. [wikipedia]
Menyinggung soal bahasa daerah, Indonesia adalah negeri yang kaya akan keberagaman bahasa daerah, jumlahnya ratusan. Menurut data yang saya baca, kurang lebih ada 700 bahasa daerah, dan yang menjadikan saya prihatin, 140 diantaranya sudah terancam punah.

Suatu waktu saya pernah mendengar seorang ibu yang sedang membantu anaknya yang masih duduk dibangku sekolah dasar mengerjakan PR dari sekolah, jelas terdengar apa yang menjadi topik dari ibu dan anaknya tersebut adalah mengenai pelajaran Bahasa Jawa. Bahasa yang sejatinya adalah bahasa ibu, bahasa yang harusnya dengan mudah dimengerti karena tempat lahir dan tumbuh menggunakan bahasa itu untuk berkomunikasi sehari-hari. Tapi nyatanya?, anak yang dalam kesehariannya diajari dan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia tersebut harus menerima kenyataan kalau dia kesulitan mengerjakan pelajaran Bahasa Jawa.

Tidak salah memang, mengajarkan kepada anak dengan bahasa indonesia sebagai bahasa sehari-hari memang tidak ada larangan. Sudah lazim ditemukan anak-anak yang tak lagi tahu bahasa daerah. Sangat mudah ditemukan disekeliling kita, orang tua yang membiasakan anak-anak mereka untuk menggunakan bahasa Indonesia.

Orang tua seperti merasa malu mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anak mereka, sehingga dengan mudah sekarang menemukan anak-anak yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, meskipun mereka tinggal di desa sekalipun. Saya pun pernah terpikir untuk "menjauhkan" anak saya dari bahasa ibu.

Melestarikan Bahasa Ibu

Kepandaian dalam bahasa asli sangat penting untuk proses belajar berikutnya, karena bahasa ibu dianggap sebagai dasar cara berpikir. Kepandaian yang kurang dari bahasa pertama seringkali membuat proses belajar bahasa lain menjadi sulit. Bahasa asli oleh karena itu memiliki peran pusat dalam pendidikan. [wikipedia]
Bila data yang saya baca tentang ancaman kepunahan bahasa ibu atau bahasa daerah itu benar, maka hal tersebut patut menjadi perhatian bersama. Akan sangat disayangkan bila suatu saat nanti generasi mendatang tak lagi tahu bahasa ibu, tak mengerti bahasa daerah. Bukankah hal tersebut menjadikan "kekayaan" Indonesia menjadi berkurang?.

Seperti saya singgung sebelumnya, sejak lahir saya diajari berbahasa jawa, hingga sekarang saya masih bangga menggunakan bahasa jawa, meskipun tak sepenuhnya bahasa jawa saya baik dan benar. Saya menikah dengan perempuan asal Purbalingga, dan setelah menikah saya memutuskan untuk berdomisili di Purbalingga, sebuah kabupaten yang menggunakan bahasa ngapak banyumasan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Tahu kan bahasa ngapak-ngapak?. Tanpa bermaksud merendahkan, kalau orang bicara ngapak di daerah asal saya, kesannya lucu, mungkin bukan hanya di daerah saya, maka tak jarang menemukan komedian yang menggunakan bahasa ngapak untuk memancing tawa penonton.

Sebelum anak saya lahir, sempat terbesit dalam hati saya untuk mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari untuk anak saya, alasan saya sederhana, saya merasa bahasa ngapak kurang bagus untuk anak saya kedepannya. Namun setelah saya renungkan akhirnya saya urungkan niat saya tersebut. Saya merasa akan lebih baik kalau anak saya dan juga anak-anak di Indonesia merasa bangga dengan bahasa ibu, bahasa daerah yang tentu saja menjadi sebuah kebanggan sebagai bagian dari Indoensia. Saya ingin anak saya bangga berbahasa daerah, saya berharap anak saya bangga menjadi orang jawa, orang Indonesia. Bahasa ibu, mungkin demikian yang ingin saya tegaskan, saya ingin anak saya juga bangga berbahasa jawa seperti logat saya (Klaten), atau bahasa ngapak (Purbalingga) sebagaimana ibunya. Tak perlu malu, tak ada yang perlu di khawatirkan, toh nantinya bahasa Indonesia dan mungkin juga bahasa asing akan lebih mudah dipelajari ketimbang bahasa daerah. 

Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan, tapi bahasa ibu adalah bahasa yang sangat penting yang merupakan bagian dari kekayaan sebuah bangsa. Secara sederhana, kalau ingin bahasa daerah atau bahasa ibu tetap bertahan, sebisa mungkin harus di lestarikan. Karena salah satu sebab kepunahan bahasa ibu adalah semakin jarang orang yang menggunakannya.

Semoga saja apa yang saya putuskan terhadap anak saya bisa memberi harapan bagi bangsa ini terhadap kelestarian bahasa ibu. Akan menjadi sebuah kelucuan bila suatu saat nanti orang Indonesia belajar bahasa daerah ke negara lain, karena setahu saya, banyak orang asing yang jatuh cinta terhadap bahasa dan seni budaya Indonesia, sehingga banyak yang mempelajari dengan serius dan lebih indonesia ketimbang orang Indonesia sendiri.
Elizabeth Karen, Sinden asal Amerika / www.kaskus.co.id
Jadi, mari bersama melestarikan bahasa ibu, bahasa daerah kita masing-masing. Tak perlu malu mengajarkan pada anak-anak kita, tak perlu malu anak-anak kita berbahasa daerah dalam kesehariannya, kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikan bahasa ibu?, karena tak mungkin kita berharap orang lain melestarikan sedangkan kita sendiri meninggalkannya.

***&***

2 comments for "Saya, Bahasa Ibu, dan Indonesia"

Comment Author Avatar
Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan :Aku Dan Indonesia di BlogCamp
Dicatat sebagai peserta
Salam hangat dari Surabaya
Comment Author Avatar
Terimakasih, Pakde
Semoga berkenan dan semoga saya beruntung :)

Salam