APRIL Asia Tekankan Kolaborasi Dalam Penanganan Bahaya Kebakaran

Image Source: APRIL
Kebakaran hutan menjadi perhatian serius APRIL Asia. Produsen pulp dan kertas terkemuka di dunia ini berupaya menanggulanginya dengan mengkreasi program kolaboratif antara beragam pemangku kepentingan.

APRIL Group menamai kegiatan tersebut sebagai Program Desa Bebas Api. Mereka mulai mencanangkannya secara resmi pada 2015. Namun, setahun sebelumnya, APRIL telah mulai mencobanya desa di Sering, Pulau Muda, Teluk Meranti dan Teluk Binjai.

Ternyata hasil yang diraih sangat memuaskan. Luas lahan yang terbakar di desa-desa tersebut berkurang drastis. Catatan APRIL Asia menyebutkan kawasan yang terbakar turun dari 97 hektare menjadi 15,8 hektare.

Keberhasilan ini menyemangati APRIL Indonesia untuk meluncurkan Program Desa Bebas Api secara resmi. Hasilnya, pada 2015, upaya penanggulangan kebakaran ini diresmikan dan terus berkembang hingga sekarang.

Program Desa Bebas Api ternyata mampu menjadi solusi bagi masalah kebakaran lahan dan hutan. Kunci kesuksesannya tak lepas dari sifat kegiatan yang menekankan kolaborasi antarpihak.

Sebelumnya penanganan bahaya api di Indonesia belum sistematis. Semua pihak hanya bertindak sendiri-sendiri tanpa ada langkah untuk saling bekerja sama. Tentu saja ini membuat hasil yang diraih tidak maksimal.

Sebagai contoh, pemerintah kerap bergerak sendiri ketika ada kebakaran. Masyarakat tidak dilibatkan. Padahal, kerap kali pemicu kebakaran lahan dan hutan adalah tangan-tangan manusia.

Sebenarnya ada banyak pihak yang peduli terhadap bahaya api. Sejumlah organisasi nirlaba maupun pihak swasta seperti APRIL menaruh perhatian. Namun, mereka sering tidak bisa berperan serta menanggulangi kebakaran karena tidak dilibatkan.

Akan tetapi, berkat Program Desa Bebas Api, wadah untuk saling bekerja sama terwujud. Dalam upaya manajemen risiko api ini APRIL Group merancangnya sedemikian rupa agar semua pihak bisa saling bekerja sama menangani masalah kebakaran.

Dalam Program Desa Bebas Api, APRIL Indonesia mengubah kebiasaan lama. Biasanya penanganan masalah api hanya bersifat reaktif. Tindakan dilakukan saat kebakaran telah terjadi. Namun, APRIL Asia memilih pendekatan berbeda. Mereka berusaha mencegah agar api tidak berkobar dengan liar di lahan dan hutan dengan alasan agar tidak ada kerugian sama sekali.

Pola pikir ini akhirnya yang membuka jalan kolaborasi antarpihak. APRIL Group bisa menggandeng masyarakat dalam mencegah kebakaran. Cara yang diambil ialah merangsang kesadaran warga untuk mengamankan wilayahnya dari api. Jika berhasil melakukannya, APRIL akan memberi insentif berupa dana hibah infrastruktur antara Rp50 juta hingga Rp100 juta. 

Pemberian insentif buka satu-satunya kegiatan dalam Program Desa Bebas Api.
Secara umum, ada empat hal lain yang dilakukan oleh APRIL. Hal-hal tersebut adalah pelatihan tim pengendali kebakaran di masyarakat, menyediakan alternatif pertanian berkelanjutan, pemantauan kualitas udara, serta kampanye kesadaran bahaya api.

Untuk melaksanakan, APRIL Group tidak bekerja seorang diri. Sejak awal Program Desa Bebas Api sudah dirancang untuk membuka aksi kolaborasi. Salah satu contohnya saat menjalankan pilot project pada 2014. APRlL menggandeng dua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Rumah Pohon dan Blue Green, sebagai mitra.

“Program ini memang merupakan aksi kolaborasi dalam mencegah kebakaran. Bersama dengan pemerintah, organisasi masyarakat, dan warga, kami akan bekerja sama menangani akar masalah kebakaran lahan dan hutan,” papar Managing Director of APRIL Group Indonesia Operations, Tony Wenas, di Jakarta Post.

MEMBUKA JALAN KOLABORASI LAIN
Image Source: APRIL
Pemaparan ini memang terasa tepat. Hampir semua aspek dalam Program Desa Bebas Api membuka kesempatan untuk praktik kolaborasi antarpihak.

Dalam pemberian insentif misalnya. APRIL Asia harus menggandeng para pemimpin masyarakat terlebih dulu agar kegiatan bisa berjalan. Mereka diajak untuk memahami dan menyebarkan kesadaran pencegahan kebakaran di lingkungan.

Bukan hanya itu, terkait kegiatan pembelajaran pertanian berkelanjutan, kerja sama dengan pihak lain dibutuhkan. APRIL Group harus berkolaborasi dengan pemerintah, LSM, hingga masyarakat.

Masyarakat yang menjadi objek pembelajaran harus diajak untuk mau mengadopsi sistem pertanian berkelanjutan. Mereka diberi kesadaran agar mau mengubah kebiasaan buruk dalam bertani seperti sistem pertanian berpindah dan membuka lahan dengan membakar.

Untuk melakukannya, APRIL Asia bisa menggandeng pemimpin komunitas, LSM, hingga pemerintah. Salah satunya adalah memanfaatkan kepala desa untuk menyadarkan warganya tentang arti penting pertanian berkelanjutan.

Contohnya dilakukan oleh APRIL di Desa Kuala Panduk, Riau. APRIL Indonesia menggandeng kepala desanya, Tomjon, untuk mengajak warga mau menjalankan sistem pertanian berkelanjutan. “Para petani dapat mengembangkan lahan tanpa perlu membakar dan mendapat informasi tentang sistem pertanian yang lebih baik,” ujar Tomjon di Jakarta Post.

Dukungan dari pihak lain seperti LSM juga amat penting dalam melaksakan rangkaian kegiatan Program Desa Bebas Api yang lain. LSM bisa diajak untuk menjalankan kampanye penyadaran bahaya api kepada masyarakat.

Selama ini, APRIL Group melakukan kampanye tersebut dengan beragam cara. Mereka kerap mendatangi masyarakat secara langsung untuk memberi pemahaman tentang kerugian akibat kebakaran. Sekolah-sekolah hingga desa didatangi. Dalam kesempatan itu, APRIL Indonesia bisa mengajak LSM dalam pelaksanaan.

Begitu pula dalam pemantauan kualitas udara. Kerja sama antarpihak mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga swasta seperti APRIL diperlukan. Hal itu dibutuhkan agar pengawasan berjalan optimal.

Tidak mengherankan semua pihak menyambut baik kehadiran Program Desa Bebas Api. Harapan besar terhadap manajemen kebakaran yang baik segera muncul.

“Melalui langkah kolaborasi dengan para pemangku kepentingan, kami berharap akan solusi yang sama-sama saling menguntungkan semua pihak dalam penanganan kebakaran,” ujar Dede Kunaifi dari LSM Rumah Pohon.

BERDAMPAK POSITIF
Image Source: APRIL
Program Desa Bebas Api yang menawarkan solusi komprehensif kebakaran lahan dan hutan terbukti berbuah manis. Kegiatan ini mampu menekan tingkat kebakaran.

Hal ini bisa dilihat dari data yang dipaparkan oleh unit bisnis APRIL, PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP). Mereka menengarai bahwa luas lahan yang terbakar di sekitarnya menurun drastis sejak Program Desa Bebas Api diterapkan.

Sebelumnya kebakaran di sekitar pabrik RAPP pada tahun 2014 ketika Program Desa Bebas Api belum diterapkan menimpa lebih dari seribu hektare lahan dan hutan. Setahun sesudahnya sesudah kegiatan dilakukan tepatnya pada 2015, luas lahan yang terbakar turun hingga menjadi 50 hektare.

"(Program Desa Bebas Api) menekan (kebakaran hutan dan lahan) sampai 90 persen di wilayah mereka," kata Direktur Utama PT RAPP Rudi Fajar kepada Kompas.com.

Keberhasilan ini akhirnya menarik banyak pihak untuk berpartisipasi. Akibatnya peserta Program Desa Bebas Api dari tahun ke tahun terus meningkat.

"Sejak diluncurkan pada tahun 2014, program ini mampu menekan terjadinya kebakaran secara signifikan diawali dengan empat desa, berkembang terus hingga 18 desa yang menjadi peserta saat ini," kata Rudi, pada peluncuran program Desa Bebas Api 2017.

Kini terlihat nyata bahwa pilihan APRIL Asia untuk menggelar Program Desa Bebas Api sungguh tepat. Unsur kolaborasi di dalamnya memang terbukti mampu menjadi solusi problem kebakaran lahan dan hutan yang selama ini sukar diantisipasi.

Post a Comment for "APRIL Asia Tekankan Kolaborasi Dalam Penanganan Bahaya Kebakaran"