Unit Bisnis Royal Golden Eagle Hasilkan Bibit Kelapa Sawit Unggulan

Royal Golden Eagle (RGE) berkecimpung dalam berbagai industri sumber daya. Sektor kelapa sawit merupakan salah satunya. Di bidang ini, anak perusahaannya, Asian Agri, mampu menghasilkan bibit kelapa sawit unggulan.

Kelapa sawit merupakan salah satu industri vital di tanah air. Negara kita tercatat sebagai eksportir kelapa sawit terbesar di dunia. Pada tahun 2017, Indonesia mampu mengekspor 31 juta ton kelapa sawit.

Dari kegiatan tersebut, sektor kelapa sawit berhasil menyumbang devisa hampir 23 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp317 triliun. Nilai ini tidak main-main karena mencapai 13% dari nilai keseluruhan ekspor Indonesia. Bahkan, jumlahnya lebih tinggi dibanding kontribusi ekspor minyak dan gas yang hanya 9% atau senilai 15,7 miliar AS (Rp217 triliun).

Belum lagi terkait serapan tenaga kerja. Industri kelapa sawit mampu menyedot pekerja dalam jumlah tinggi. Sebagai gambaran, pada 2016, bidang ini sanggup mempekerjakan lebih dari 5,5 juta orang.

Jumlah tenaga kerja yang diserap berada di peringkat kedua setelah industri kelapa yang membuka lapangan pekerjaan untuk 6,5 juta tenaga kerja. Namun, industri kelapa sawit secara tidak langsung juga menyerap 12 juta tenaga kerja, antara lain di sektor hilir, dan industri pengolahan lainnya.

Dua hal tersebut telah memperlihatkan arti penting industri kelapa sawit bagi Indonesia. Tidak heran, RGE mengelola perusahaannya secara serius. Mereka selalu berupaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit supaya hasilnya meningkat.

Berdiri sejak 1979, Asian Agri telah berpengalaman panjang dalam mengelola perkebunan kelapa sawit. Sejak membuka kebun pertamanya di Gunung Padang, sehari-hari mereka terus menggeluti pengelolaan kebun kelapa sawit sampai kini.

Tercatat, Asian Agri mengelola perkebunan seluas 160 ribu hektare. Dari jumlah itu, 60 ribu di antaranya dikelola oleh para petani plasma. Selain itu, anak perusahaan Royal Golden Eagle ini menjalin kerja sama dengan para petani swadaya. Langkah itu mencakup lahan seluas 40 ribu hektare.

Pengalaman panjang tersebut membuat Asian Agri tahu persis kunci kesuksesan perkebunan. Salah satu yang dianggap vital adalah masalah bibit. Tanpa bibit berkualitas, hampir dipastikan hasil yang dipanen tidak maksimal.

Arti penting bibit berkualitas semakin terlihat ketika melihat model bisnis kelapa sawit. Perkebunannya merupakan investasi jangka panjang. Sekali ditanam, kelapa sawit dapat dimaksimalkan sampai 20 tahun hingga 25 tahun. Oleh sebab itu, sekali salah memilih bibit, penyesalan yang dirasakan berlangsung dalam jangka panjang.

Alasan-alasan itu mendorong Asian Agri mengembangkan bibit kelapa sawit berkualitas. Melalui Asian Agri Oil Palm Research Station (OPRS) yang berada di Topaz, Indonesia, unit bisnis RGE ini berhasil menghasilkan bibit unggulan yang dinamai Topaz.

Pencapaian tersebut merupakan buah kerja keras jangka panjang. OPRS yang berdiri pada 1996 telah merintisnya sejak awal berdiri. Mereka mengembangkan Topaz yang memiliki sejumlah keunggulan khusus.

Bibit Topaz sendiri merupakan perkawinan Dura Deli dan Pisifera Nigeria (Topaz 1), Pisifera Ghana (Topaz 2), Pisifera Ekona (Topaz 3), dan Pisifera Yangambi (Topaz 4). Kehadirannya berawal dari tahapan panjang dan diawasi dengan ketat. Dimulai dari kegiatan seleksi dan pemuliaan yang sistematis dan berkelanjutan untuk mendapatkan varietas unggul yang dilepas oleh pemerintah melalui SK Menteri Pertanian pada tahun 2004.

OPRS saat ini telah merilis empat varietas Topaz di antaranya, Topaz 1, Topaz 2, Topaz 3 dan Topaz 4, berdasarkan progenies dari seluruh dunia. Asian Agri berharap bibit unggul ini mampu mendukung produktivitas perkebunan kelapa sawit.

“Dengan genetis bibit unggul dan manajemen kebun yang baik, maka kebun kelapa sawit dapat berproduksi optimal dan terus meningkat baik dari segi kualitas maupun kuantitas,” papar Kepala OPSR Topaz Asian Agri, Ang Boon Beng, seperti dikutip dari Jambidaily.

BERBAGAI KELEBIHAN TOPAZ

Topaz tidak bisa disebut sebagai sebagai bibit unggul kalau tidak punya kelebihan khusus. Bibit yang dikembangkan Asian Agri ini mempunyai berbagai keunggulan yang mendukung produktivitas perkebunan.

Hal itu dimulai dari hasil panen yang melimpah. Memakai bibit Topaz menjadi jaminan produktivitas perkebunan kelapa sawit yang tinggi. Bayangkan saja rata-rata, Topaz akan berbuah 32 ton per hektare. Jumlah yang cukup tinggi untuk perkebunan.

Kelebihan Topaz malah telah terlihat sejak masa-masa awal dipanen. Bayangkan, momen panen buah lebih cepat dari bibit lainnya. Rata-rata bibit kelapa sawit Topaz mampu menghasilkan Tandan Buah Segar (TBS) sebanyak 15-18 ton per hektare pada tahun pertama. Jumlah itu meningkat pada tahun kedua yang mencapai 19-25 ton TBS dan semakin melonjak pada tahun ketiga, 26-30 ton per hektare pada tahun ketiga.

Setelah itu, pada tahun keempat hingga ke-15 berproduksi, bibit kelapa sawit Topaz konsisten memproduksi TBS hingga 31-35 ton per hektare. Hasil itu dua kali lipat dari hasil produksi kelapa sawit bibit biasa.

Bukan hanya dari segi produksi, bibit kelapa sawit Topaz menghadirkan sejumlah keunggulan lain yang tak kalah menarik. Pertumbuhan tinggi pohon cenderung melambat. Selain itu, kelapa sawit cepat berbunga sehingga masa panen datang lebih awal.

Masih ada keunggulan lain yang dimiliki. Kemampuan berdaptasi bibit Topaz sangat sukar diabaikan. Bibit ini begitu adaptif. Mereka mampu tumbuh dengan baik dalam kondisi tanah yang buruk sekalipun.

Semua itu masih ditambah dengan dua keunggulan lain. Pertama adalah potensi hasil minyak yang besar. Selanjutnya yang kedua ialah rendemen minyak yang tinggi. Semuanya makin menjadikan Topaz sebagai bibit unggulan yang layak dicoba.

Asian Agri tidak menutup bibit Topaz hanya untuk kalangannya sendiri. Anak perusahaan Royal Golden Eagle ini menyediakan benih Topaz untuk umum.

Respons yang diperoleh pun sangat positif. Lebih dari 130 juta bibit telah dikirim ke perkebunan besar, petani plasma dan petani swadaya di seluruh Indonesia dan luar negeri.

“Benih tersebut disalurkan pada beberapa perkebunan besar di Sumatra, Kalimatan hingga Papua, dan telah digunakan oleh petani plasma, petani swadaya di seluruh Indonesia,” tutur Ang Boon Beng.

Dalam Trade Expo Indonesia 2017, bibit Topaz mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Presiden Joko Widodo meminta kepada agar Asian Agri untuk membantu petani dalam memperoleh benih bersertifikat sehingga menghasilkan produktivitas tinggi. Tujuannya supaya nasib petani bisa jauh lebih baik lagi.

“Jadi beliau meminta kami, Asian Agri untuk dapat membantu para petani sawit di lapangan mendapatkan bibit unggul untuk hasil panen yang lebih baik,” ujar Head of Sustainability & Stakeholder Relations Asian Agri, Bernard Riedo, di Perkebunannews.com.

Sebagai bagian dari grup Royal Golden Eagle, Asian Agri jelas menyambut baik harapan pemerintah. Unit bisnis RGE ini memang menggencarkan pemanfaatan bibit Topaz supaya hasil perkebunan petani meningkat.

Anak perusahaan Royal Golden Eagle ini melakukannya supaya bisa menjalankan arahan induk perusahaannya. Mereka mewajibkan segenap pihak di RGE agar memberi manfaat kepada pihak lain sebesar mungkin.

Post a Comment for "Unit Bisnis Royal Golden Eagle Hasilkan Bibit Kelapa Sawit Unggulan"