Merindukan "Kolam Susu"

 On May 20, 2011  



Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman


Banyak hal yang saya tafsirkan dari lagu Kolam Susu yang di nyanyikan oleh Koes Plus, diatas. Lirik yang begitu sederhana namun menggambarkan sebuah negeri yang begitu melimpah kekayaan alam dan betapa makmurnya negeri tersebut. Mungkin saja yang dimaksud itu Indonesia (pada waktu dulu), tapi saya tidak berani memastikannya.

Sebuah perbandingan terkadang diperlukan untuk megukur betapa jauh perjalanan, dan perubahan pasti saja terjadi. Kalau saja yang dimaksud dalam lagu tersebut adalah Indonesia (pada waktu dulu dan pada saat sekarang), betapa bahagianya hidup di negeri ini. Tapi, melihat kenyataan yang ada, rasa-rasanya kurang tepat kalau lagu tersebut bercerita tentang Indonesia (pada saat ini).

Anda lebih tahu tentang apa dan bagaimana negeri di mana Anda sekarang hidup, soal tafsir yang berbeda, itu adalah hal biasa. Hidup itu tafsir, beda sudut pandang beda pula penafsirannya. Merindukan "Kolam Susu", merindukan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi.
Merindukan "Kolam Susu" 4.5 5 Sukadi May 20, 2011 Bukan lautan hanya kolam susu Kail dan jalan cukup menghidupimu Tiada badai tiada topan kau temu...


21 comments:

  1. betul gan di mana hidup dinegeri yang berlimpah kekayaan namum dengan pemerintahan yang antah berantah menjadi hidup kita susah

    ReplyDelete
  2. @warsito: mungkin demikian gan.

    ReplyDelete
  3. duh, bicara alam dan potensinya, serta kondisi saat ini membuat saya sedih, melihat kondisi alam kalimantan yang dulu luar biasa dan sekarang terkoyak-koyak. banyak hutan dan gunung menghilang, banyak sungai telah kering. termasuk "kolam susu" yg memang menjadi nama sebuah kolam besar dulu tempat dulu kami bermain waktu kecil.
    karena itulah, sudah saya haramkan diri dan anak cucu saya untuk terlibat usaha yang mengeruk alam.

    ReplyDelete
  4. Sedih kalo denger lagu ini.. seakan kita bersalah terhadap Indonesia :(

    ReplyDelete
  5. ibarat kata " ayam mati di lumbung padi" tapi bukan mati karena kekenyangan , tapi mati karena kelaparan, bagaima gak mati ternyata difdalam lumbung tersekat menjadi dua, satunya tempat padi dan sekat yang lain jadi kandang ayam, jadinya ayam cuma bisa lihat banyaknya tumpukan padi tapi tidak pernah bisa makan padi itu sendiri

    ReplyDelete
  6. @Mhd Wahyu: banyak dalih dan banyak alasan, akhirnya "pembersihan" itu berjalan dengan lancar.

    @ada-akbar: apakah kita tidak bersalah? :D

    @pakde sulas: pengibarat yang masuk akal, Pakde. semoga bisa menjadi sebuah koreksi bagi kita bersama..

    ReplyDelete
  7. tanah kita emang tanah surga kok Kang.. Yach surga bagi para sekawanan itu tuh..?

    ReplyDelete
  8. Semoga Negara ini benar-benar menjadi kolam susu, yang airnya mengandung vitamin, sehingga mencerdaskan,dan memakmurkan bangsa ini..

    ReplyDelete
  9. Kolam susu....

    Itu nyanyian dulu, skrang rasanya udah ga pas !

    ReplyDelete
  10. sedih juga kalau mengenang lagu ini kembali, seolah kita bersalah pada negeri ini, dengan makin banyaknya pembalakan hutan dan tdk ada bertanggung jawab, belum lagi perusakan dgn penggalian liar yg bisa ditemui di beberapa daerah, juga pembakaran hutan , yg turut serta bikin polusi dn penyakit pd masyarakat sekitar :(
    semoga kita mau utk memulai lagi keindahan syair diatas utk masa depan ank cucu kita, paling tidak dgn menanam pohon dihalaman sendiri.
    salam

    ReplyDelete
  11. @Lozz Akbar: setuju Kang... surga bagi mereka yang benar-benar menikmatinya :(

    @yuni cuti: hmm... semoga saja

    @Sugito Kronjot: lagunya masih enak didengar sampai sekarang dan mungkin nanti Kang.. tapi untuk masalah kadungan makana dibalik liriknya, mungkin iya..

    @bundadontworry: semoga saja ada perubahan, ada bukti nyata untuk perubahan.. dan buat orang2/pihak2 yang "paling menikmati" kekayaan Indonesia, semoga lekas sadar..

    ReplyDelete
  12. suka denger lagu ini pak, apalagi saat bapak saya memutarkannya dulu lewat kaset radio, atau ibu lewat siaran radio mencarikan lagu ini, sayang sekarang sudah jarang ku dengar lagi, semoga pesan yang dibawakannya akan kita nikmati lagi.

    ReplyDelete
  13. Kalau begitu siapa yang salah ya Sob ???

    Salam

    Ejawantah's Blog

    ReplyDelete
  14. @hanif: semoga..

    @R. Indra: Anda lebih tahu jawabannya :D

    Salam

    ReplyDelete
  15. berkunjung sob,salam kenal...:)

    ReplyDelete
  16. knjungan perdana, saya sendiri kurnag begitu suka musik.

    ReplyDelete
  17. sebuah lagu yg tak lekang oleh waktu nich hehehehehee.... mantap bro

    salam persahabatan selalu dr MENONE

    ReplyDelete
  18. saya jadi inget lagu plesetannya ya rada2 gokilll wkwkw

    ReplyDelete
  19. @UBC: salam kenal, terimakasih kunjungannya :)

    @Guusn: terimakasih kunjungannya. lalu, apa hubungannya dengan ketidaksukaan Anda pada musik? :D

    @MENONE: siip... salam persahabatan.

    ReplyDelete
  20. Kalau saya rindu susunya aja mas...:)

    pagi2 minum susu malam2 minum susu wah enaknya

    ReplyDelete
  21. @Balimoz: baiklah, susunya buat Anda.. :D

    ReplyDelete