Sebuah Nama, Sebuah Cerita

 On May 1, 2011  

Lelaki itu nama lengkapnya adalah Hari Wiyono, namun di desanya dia lebih dikenal dengan sebutan Wiyono, hal ini berkaitan dengan adanya dua nama yang sama. Satu orang lagi adalah seorang guru, namanya Hari Cahyono, dan di desa itu dia lebih dikenal dengan sebutan Hari Guru.

Ini bukan masalah banyolan, ini adalah tentang cerita yang terkadang terlalu sia jika diperdebatkan. Ya, cerita ini mengenai Hari Wiyono dan sekelumit perjalanan seorang buruh di sebuah desa. Hari Wiyono adalah seorang pekerja serabutan, pekerjaan apapun dia jalani asal halal, mencangkul di sawah, cari rumput, mencari kayu bakar, membersihkan pekarangan, pekerja bangunan, dan pekerjaan 'kasar' lainnya.

Dia tidak paham apa itu UMR, dia bekerja sebagai 'pegawai tetap' disebuah 'lembaga' yang di pimpin oleh rasa tanggungjawab sebagai seorang kepala rumah tangga, seorang suami dan seorang bapak. Yang dia tahu adalah jika ingin mendapatkan upah maka dia harus bekerja, apa pun itu yang penting halal. Baginya UMR hanyalah sebuah cerita, itu hanya sebuah kabar lalu, toh jika dia tidak bekerja dia tidak dapat apa-apa, UMR adalah apa yang telah dia perjuangkan sendiri dengan keringatnya.

Hari buruh hanyalah sebuah berita bagi orang seperti dia, menuntut kenaikan upah pun dia tidak berani. Dia bersyukur dengan rejeki yang dia dapat dari 'menjual' tenaganya itu. Walau kehidupannya jauh dari cukup, dia tidak merasa iri dengan tetangganya yang 'pegawai', tetangga yang kesejahteraannya lebih terjamin, yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Soal bagaimana kesejahteraan dan jaminan dari negara?, Hari Wiyono tidak berani berharap banyak.

*cerita ini hanya fiktif, jika ada kesamaan nama dan peristiwa, itu hanya sebuah kebetulan.
Sebuah Nama, Sebuah Cerita 4.5 5 Sukadi May 1, 2011 Lelaki itu nama lengkapnya adalah Hari Wiyono, namun di desanya dia lebih dikenal dengan sebutan Wi...


25 comments:

  1. dan di luar sana, di sekitar kita masih banyak Hari Wiyono yang lain yang terlupakan, seharusnya pemerintah malu dengan mereka

    ReplyDelete
  2. @joe: wajar jika ribuan orang beramai-ramai menuntut kesejahteraan mereka.

    ReplyDelete
  3. Assalamu'alaikum Kang
    "nrimo ing pandum"nya kang Hari membawa dirinya berada pada kepuasan batin yang sulit diterjemahkan, walo sebenarnya dalam keadaan sulit.
    sementara, Banyak insan memandang dan menilai kenikmatan dan kesuksesan dunia itu dari segi harta, kedudukan, pangkat dan seberapa banyak orang kagum kepada kita. sebagian menganggap bahwa harta selalu membawa kebahagiaan. Benarkah demikian. Sementara tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa kebahagiaan itu ada dalam hati. Bagaimana hati menilai apa yang kita miliki. Bagaimana upaya kita membangun pondasi dalam mencari surga dunia?.

    ReplyDelete
  4. Bukan hanya wajar, Pak. Saya kira apa yang dituntut oleh kalangan buruh di Indonesia, dari tahun ketahun tak banyak berubah. Tuntutan itu-pun memang mendasar dan sangat manusiawi. Logis dan tak sulit diterima akal sehat.

    Kalau boleh berpendapat, sebetulnya apa yang diharapkan oleh buruh bukanlah tuntutan. Itu hak> Hak mereka sebagai corong produksi, utamanya dalam dunia industri moderen.

    Hehee, saya kira Pak sukadi jauh lebih memahami maksud dan arah diskusi saya.

    Tapi sosok 'Hari Wiyono' dalam cerita fiktif ini, sangat persis dengan kelas buruh yang diharapkan oleh para penguasa (dugaan saya).

    ReplyDelete
  5. @Djangan Pakies: Walaikumsalam Wr Wb,
    Manusia mempunyai sudut pandang dan standar nilai yang berbeda Kang, bagi sebagian orang masalah dunia terkadang rancu jika dikaitkan dengan masalah akhirat, padahal keduanya tentu berkaitan.
    Nrimo bukan berarti tanpa harapan, hanya saja keadaan yang terkadang membuat sesorang menjadi lebih mengerti hidup. Dan semua kembali pada diri masing-masing...
    Nuwun Kang :)

    ReplyDelete
  6. @Memaknai Keragaman: Sebenarnya saya masih terlalu dangkal jika diajak ngomong soal hak dan kewajiban :)

    Benarkah sosok buruh seperti Hari Wiyono dalam cerita diatas adalah yang diharapkan oleh penguasa?, jenis buruh yang bagaimana yang Anda maksud? :)

    ReplyDelete
  7. Selamat hari buruh untuk para buruh Indonesia.

    Sukses selalu

    Salam

    Ejawantah's Blog

    ReplyDelete
  8. @R. Indra Kusuma: Selamat hari buruh...

    Sukses buat kita semua

    Salam

    ReplyDelete
  9. saya pun bekerja tidak memperhatikan berapa UMR saya. :D

    ReplyDelete
  10. @Erwin: ya, itu adalah hak Anda :D

    ReplyDelete
  11. assalamu'alaikum mas..
    UMR th "upah minimum relatif" ya mas, hehe. Maklum anak pelosok desa.
    Kayaknya kalo buat kami yang di desa ini lebih cocok di ganti begini mas ''usaha mencari rizki" :-)

    semoga di pagi yang indah ini pemerintah kita lebih terbuka dan menjadi baik ya mas.
    wassalam.

    ReplyDelete
  12. kalau diamati, semua kita, termasuk Pak Wiyono, sama saja tujuan hidupnya , hanya ingin menuntaskan tanggung jawab sebagai, kepala keluarga, suami dan ayah, utk menyejahterakan keluarga tercinta ya Mas.
    namun, aku mengagumi Pak Wiyono dlm kesederhanaannya , beliau selalu mensyukuri apa yg diperoleh dr segenap jerih payahnya.
    salam

    ReplyDelete
  13. salam kenal brow..
    pemerintah cuma janji2 belaka, susah cari orang yg benar2 mau memikirkan rakyatnya. kebanyakan dari mereka hanya memikirkan perutnya sendiriii aaaaggggghhhhhh...

    ReplyDelete
  14. semua terjadi karena berawal dari kesenjangan dan ketidak pedulian... hmm.. semoga hari esok di negara ini akan menjadi lebih baik..

    ReplyDelete
  15. terkadang karena segala sesuatunya sudah bisa didapat dengan atau tanpa kerja keras...membuat orang jadi malas bro...

    ReplyDelete
  16. @Ardian Bumi: Walaikumsalam Wr Wb. mas..
    bagi orang desa (buruh di desa), mereka tidak mengenal UMR, mereka tahunya kerja dan dibayar, berapa besarnya tergantung dari si pemberi kerjaan, jadi tak ada besaran pasti dan semua tergantung dari tarif upah masing masing wilayah/desa...

    @bundadontworry: di desa, masih banyak orang seperti itu, Bunda. yang bekerja tanpa kontrak tertulis, tanpa tarif, mereka mengandalkan musim, maka tak jarang banyak yang memilih untuk merantau.
    Salam

    ReplyDelete
  17. @moenas: salam kenal mas
    lebih baik mengandalkan tenaga sendiri dari pada menunggu janji manis yang belum pasti terealisasi.

    @mas wira: mungkin. :)

    @nyayu amibae: tak ada asap kalau tak ada api, pergeseran norma sedikit banyak berpengaruh terhdap pola pikir dan sudut pandang. semoga esok lebih baik.

    @NECKY: mungkin saja demikian, Pak. :)

    ReplyDelete
  18. kemaren hari buruh dan sekarang hari pendidikan...
    smoga semua element penting ini akan dilakukan dalam kehidupan nyata dan bukan sekedar diperingati saja...

    sebuah nama sebuah cerita = peterpan :D

    ReplyDelete
  19. @tomi: yang penting tetap semangat mas..

    bukan peterpan mas, tapi lagu dangdut terbaru kok :D

    ReplyDelete
  20. semoga dihari buruh sedunia kemarin keadaan para hari wiyono ini & yang lainnya sedikit lebih diperhatikan.......:)

    ReplyDelete
  21. @Arief Bayoe: semoga saja demikian mas :)

    ReplyDelete
  22. saya juga sama tuh mas , meskipun ujan ujanan tak mementingkan UMR asal aku di kasih uang saja, jiahahaha

    ReplyDelete
  23. masih beruntung masih ada hari wiyono yang menjual jasa dengan tenaganya,jutru majikannya yang harus ngerti berapa pantasnya ngasih upah,kalau bisa diatas UMR

    ReplyDelete
  24. dan masih banyak yang seperti itu d luar sana

    ReplyDelete
  25. Ini mencerminkan realita yang terjadi diluar sana......

    ReplyDelete