Bubarkan Klub Atau Kelompok Suporternya?

 On January 15, 2012  

Sudah menjadi rahasia umum, kalau kondisi persepakbolaan Indonesia saat ini sudah dalam kondisi sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak?, sudah sekian lama carut marut, belum juga menemukan titik terang, bahkan terasa kian suram menurut saya. Tak perlu saya kemukakan alasan, toh saya percaya kalau Anda pasti tahu tentang banyaknya permasalahan yang saya maksudkan.

Tadi siang, saya merasa terkejut ketika membaca judul berita dalam sebuah koran, dimana fanatisme terhadap klub sepakbola harus ditebus mahal dengan taruhan nyawa. Tawuran antar kelompok suporter telah menewaskan seorang suporter dan melukai beberapa orang lainnya. Awalnya saya berfikir kalau yang tawuran itu dari pendukung dua klub yang bertanding, tapi ternyata, tawuran terjadi antara dua kelompok suporter dari pendukung klub yang sama. (Beritanya juga bisa Anda baca disini).

Saya tidak ingin membahas tentang siapa yang salah dan yang benar, karena memang saya tidak ingin dan merasa tidak punya otoritas untuk itu. Yang membuat saya masih tidak habis pikir, kenapa juga kelompok yang mendukung tim yang sama harus saling bertarung?, bukankah keberadaan kelompok tersebut sama-sama untuk mendukung satu tim?. Sering kita dengar pemberitaan mengenai tawur antar suporter, tapi biasanya, yang tawuran itu dari kelompok pendukung tim yang berbeda. Dan itu masih logis menurut saya.

Bubarkan Klub Atau Kelompok Suporternya?
Secara alamiah, keberadaan kelompok suporter tak lepas dari adanya klub yang didukung. Bisa dibilang, klub dan kelompok suporter adalah saling bergantung satu sama lain. Oleh karenanya, bila diantaranya tidak ada, maka bisa diibaratkan jiwa yag kehilangan ruh. Jadi, sebisa mungkin keberadaan klub dan kelompok suporter bisa berjalan selaras.

Kemudian, sempat terbesit dalam benak saya, seandainya saja tawuran antar suporter terus terjadi, baik itu dari pendukung tim yang sama, maupun kelompok suporter dari tim yang berbeda, mungkin perlu sebuah tindakan tegas. Solusi yang sedikit ekstrim: perlu ada yang dibubarkan, entah klub, atau kelompok suporternya. Bubarkan klub, agar disaat terjadi tawuran tak ada kelompok suporter yang mengatasnamakan pendukung klub sepakbola tertentu. Atau, bubarkan saja kelompok suporter, agar tiap terjadi tawuran tidak mengatasnamakan kelompok suporter tertentu.

Terlalu sering kita temui kasus serupa, dan terjadi dalam lingkup yang berbeda. Saya adalah penggemar sepakbola, dan tentunya mempunyai tim yang saya favorit-kan, baik dalam maupun luar negeri. Tapi, saya lebih berfikir "cari aman", akan lebih nyaman kalau saya dalam posisi netral, tanpa harus bergabung dalam kelompok suporter, meskipun saya juga pendukung klub tersebut. Yang ditakutkan, bila bergabung dalam sebuah kelompok, biar tidak salah sekalipun, pasti juga dianggap salah, dan saya rasa itu tidak adil.

Sudahlah, semoga saja kasus tawuran antar suporter tidak lagi terjadi, baik atas nama pribadi maupun kelompok. Sepakbola itu bukan ajang untuk menunjukkan siapa yang terbaik dan terkuat secara fisik, sepakbola itu olahraga yang membutuhkan jiwa besar dan sportifitas dari pelakunya. Kalau induk organisasinya ribut, klub banyak yang pecah, kompetisi tidak menentu, kelompok suporter pada tawuran, apa yang bisa kita harapkan dari sepakbola Indonesia?.
Bubarkan Klub Atau Kelompok Suporternya? 4.5 5 Sukadi January 15, 2012 Sudah menjadi rahasia umum, kalau kondisi persepakbolaan Indonesia saat ini sudah dalam kondisi san...


16 comments:

  1. ehm,,kalau sampai kayak gitu emank fatal bang..
    aku jg suporter.tp aku berusaha sportif dan menghindari yang begituannn bang...maju terus sepakbola indonesia

    ReplyDelete
  2. @yanuar catur rastafara: harusnya demikian, sportif dan berjiwa besar. maju terus sepakbola Indonesia.

    ReplyDelete
  3. yang semrawut nggak hanya sepakbola paaak, banyak banget.... :D

    ReplyDelete
  4. Iya banyak bangett..Tapi susah juga ngatur nya loo

    ReplyDelete
  5. Iya, beritanya di koran tawuran antara kelompok suporter PSIS, Snex dan Panser Biru..

    Semoga saja tidak menimbulkan dendam berkepanjangan... :(

    ReplyDelete
  6. @Sriyono: benarkah? :D

    @Fajar: apanya yang banyak banget? :D

    @Arti Peribahasa: sebenarnya patut disayangkan, semoga saja tidak menjadi dendam berkepanjangan :(

    ReplyDelete
  7. Suppoter indonesia belum terdidik secara langsung maupun tidak langsung,makanya wajar saja kalau terjadi banyak aksi tawuran antara sesama suppoter
    supporter gaduh + pssi gaduh bahkan pemerintah'a pun gaduh makin komplit lah negeri ini dengan segala carut marut'a dr berbagai sektor

    ReplyDelete
  8. Saya sangat setuju "BUBARKAN SUPPORTERNYA"!!!
    Bikin malu.

    ReplyDelete
  9. Kalau bapak saya bilang, mereka itu merupakan orang-orang yang lagi nggak punya kerjaan, makanya jadi ingin 'caper' biar ada kesibukan :p

    ReplyDelete
  10. Hebatnya per-sepakbola-an negeri sendiri. sebenarnya ini yang tak membuat pssi maju, bukan hanya pemimpin, semua aspek juga bobrok :(

    ReplyDelete
  11. @Andy: semoga cepat berakhir "kekacauan" ini :(

    @Ipras: mungkin saja demikian, mas..

    @Kaget: yah, beginilah adanya.. :(

    ReplyDelete
  12. hadeeuuhh,,,
    kapan persepakbolaan Indonesia, minimal bisa tertib. suporter masih belum bisa bersikap dewasa.
    Kalau dibubarkan juga ga mungkin, dibiarin juga makin menjadi... :D

    ReplyDelete
  13. supporter lagi supporter lagi..

    berantem ama warga lah,
    berantem ama klub lawan lah..
    berantem ama supporter klub sendiri lah..

    mending kaya holigan inggris, damai ditanah sendiri, rusuh di negeri orang noh...

    ReplyDelete
  14. sebenarnya kalau mau dibubarkan sayang juga kang tapi kita yang harus lebih dewasa mungkin nggak ya masalah hidup sudah merubah masyarakat kita, mengenai masalah komentar gimana ya kang apa kita moderasi aja

    ReplyDelete
  15. @Mabruri: terlalu banyak masalah, kalaupun banyak pertanyaan, itu belum tentu ada jawaban.. biarkan waktu yang menjawab, Mas.. :)

    @Lisda: enaknya sih seperti itu, jangan hanya ribut sama teman sendiri :(

    @smp 3 lembang: sebenarnya saya kepikiran untuk memoderasi komentar, Pak.. tapi setelah saya pikir, akhirnya saya urungkan, hanya saya tambah sedikit pemberitahuan diatas kotak komentar..

    ReplyDelete