Sepak Bola, Konflik dan Rindu Prestasi

 On April 28, 2015  

Beberapa pekan terakhir pemberitaan mengenai PSSI begitu sering muncul di media. Mulai dari kompetisi yang mundur, kongres PSSI, pembekuan PSSI oleh Kemenpora, sampai tidak turunnya ijin dari fihak kepolisian terkait ijin penyelenggaraan pertandingan. Asik. Tak ada habisnya, dari dulu permasalahan selalu muncul dalam sepak bola Indonesia.
Jangan harap ada berita prestasi membanggakan, adanya cuma konflik dan kemerosotan prestasi sepak bola Indonesia. Malu?, tidak, selayaknya saya tidak harus malu dengan prestasi dan hal-hal negatif dalam sepak bola Indonesia. Berkaca dari carut marutnya induk organisasi sepakbola sampai dengan penyelenggaraan kompetisi yang dapat dibilang kurang profesional, tak banyak yang bisa diharapkan, kalau pun tak ada prestasi itu bisa menjadi sebuah kewajaran.

Masih hangat dalam ingatan ketika banyak klub "tak mampu" membayar gaji pemainnya, sehingga penunggakan gaji di beberapa klub sepak bola bisa berbulan-bulan lamanya. Pengaturan skor, sepak bola gajah, kasus suap, perang antar suporter, kisruh internal klub. Bahkan untuk musim yang baru digelar beberapa pertandingan di tahun ini, sudah diwarnai dengan kasus suap yang melibatkan pemain sepak bola. Apa yang mau dibanggakan?.

Macan Asia?, Tidak Lagi
Indonesia sempat menjadi negara yang disegani di kawasan Asia, karena memang secara prestasi cukup bisa dibanggakan. Namun, beberapa tahun terakhir ini Indonesia bukan lagi negara yang perlu disegani dalam urusan sepak bola. Jangankan level Asia, di level Asia Tenggara saja nama Indonesia tak lagi menakutkan. Tanpa bermaksud meremehkan, Timor Leste yang notabene baru berumur jagung pun tak bakal takut lawan Indonesia, karena secara peringkat Indonesia masih dibawah Timor Leste.
Peringkat FIFA April 2015
Jangan terus bersembunyi dibalik nama FIFA, kalau memang kepentingannya untuk rakyat Indonesia, harusnya bisa menerima masukan dari semua fihak dan tidak seolah-olah menganggap PSSI punya pribadi atau kelompok. Sepak bola adalah milik seluruh rakyat Indonesia, yang pengelolaannya dipercayakan pada PSSI. Semua fihak harusnya bisa duduk bersama, meninggalkan dan menanggalkan kepentingan masing-masing dan mencari solusi terbaik demi prestasi dan perkembangan sepak bola Indonesia.

Lihat negara dengan jumlah penduduknya tak sampai 1/10 jumlah penduduk Indonesia bisa berprestasi terkadang membuat miris, dimana salahnya?, mencari sebelas pemain terbaik diantara 250 juta lebih penduduk Indonesia kok sepertinya tidak bisa. Rakyat Indonesia sudah merindukan prestasi, bukan janji atau banyaknya kasus yang tak kunjung selesai.

Tak perlu saling mempersalahkan, butuh kebesaran hati, kalau hanya tuding sana tuding sini dan merasa paling benar, rasa-rasanya prestasi itu hanya mimpi. Buat apa kita bermimpi terlalu tinggi kalau untuk mewujudkan mimpi tersebut kita harus ribut, mana ada keributan yang membuahkan prestasi?.

Saya sendiri mulai apatis, meskipun sebenarnya saya rindu prestasi sepak bola Indonesia. Tapi, kalau dari dulu keadaannya begini-begini saja, sepertinya liga tujuh belasan akan lebih menarik, sepak bola antar kampung yang menyuguhkan pemain-pemain yang tak dilabeli pemain profesional. Prestasinya akan langsung terlihat dalam satu bulan setelah turnamen selesai, jadi macan tarkam terasa begitu membanggakan. Kemenpora, PSSI, atau siapa saja yang terlibat dalam sepak bola Indonesia, semoga saja bisa mewujudkan mimpi rakyat Indonesia untuk melihat kompetisi, pemain, klub, dan pengurus sepak bola yang profesional. Mari duduk bersama, kita ngopi diwarung sebelah, warung yang selalu sesak saat ada siaran langsung ketika Timnas Berlaga.
Sepak Bola, Konflik dan Rindu Prestasi 4.5 5 Sukadi April 28, 2015 Beberapa pekan terakhir pemberitaan mengenai PSSI begitu sering muncul di media. Mulai dari kompeti...


No comments:

Post a Comment