Solo, Angkringan, Dan Jumlah Orang Meninggal

Hari Sabtu yang lalu saya berkesempatan pergi ke Kota Solo, kota dimana saya menghabiskan kurang lebih empat setengah tahun untuk menuntut ilmu. Setelah sekian tahun tak pernah mengunjungi kota yang juga bernama Kota Surakarta ini, ternyata sudah banyak yang berubah, terutama pada bangunan gedung, mall, dan khususnya jalan yang makin padat dan cenderung macet.

Bukan tanpa tujuan saya ke Solo, niat saya adalah ingin membelikan tab buat si Sulung di Matahari Singosaren. Barang yang ingin saya beli bisa dengan mudah saya peroleh, karena di lantai dasar hampir seluruhnya untuk counter ponsel. Namun, karena yang bagian isntall aplikasi sedang keluar, akhirnya saya harus menunggu, tak banyak pilihan, karena barang sudah saya bayar sebelumnya.

Sembari menunggu, tak saya sia-siakan kesempatan kali ini untuk sekedar putar-putar melihat perubahan wajah kota. Niatnya ingin pergi ke Gramedia yang dulu berada di jalan Slamet Riyadi, muter-muter sekalian menikmati, eh, ternyata malah tak saya temukan. Entahlah, mungkin saya yang lupa, toko bukunya sudah tidak ada, atau bisa jadi karena salah jalan.

Sekitar pukul 14.00 sejenak saya mampir ke angkringan di dekat ATW, tepatnya di seberang TPU, sekedar menghabiskan waktu saya ngobrol dengan bakul angkringan. Tak berapa lama terdengar suara ambulan meraung, diiringi rombongan pelayat dengan motor maupun mobil. "Wis pitu", demikian mas penjual wedang berkata, menjelaskan bahwa sudah ada tujuh orang meninggal sampai siang itu.

Kemudian cerita berlanjut pada rata-rata orang meninggal yang di makamkan di TPU tersebut. "Rata-rata nggih gangsal sedinten", terang si mas. Lima orang rata-rata meninggal dan di makamkan di TPU tersebut, kalau hitungan rata-rata sehari lima orang, dalam sebulan kira-kira seratus limapuluh orang yang meninggal dan di makamkan dalam satu TPU.

Ah, mas penjual angkringan ada-ada saja, sempat-sempatnya menghitung dan merata-rata jumlah orang meninggal. Tak ada yang salah. Es jeruk yang saya pesan, tahu bacem dua dan ampyang kacang saya bayar, Rp.5.000 saja. Bergegas saya pamit, mengambil tab yang tadi saya beli di Matahari Singosaren.
-------------------
Solo, Angkringan, Dan Jumlah Orang Meninggal
Bicara soal jumlah angka kematian, memang tidak ada yang bisa memberikan angka pastinya, hanya sekedar data yang di olah dari berbagai sumber. Seperti dalam beberapa berita, seperti apa yang tertulis di Republika.co.id, pada bulan Februari tahun 2013 jumlah orang meninggal akibat kecelakaan rata-rata 86 orang setiap harinya. Tempo.co menulis di bulan Maret 2015, ada 33 orang meninggal setiap hari karena narkoba.

Untuk lebih luas lagi, Okezone.com memberitakan bahwa di Afrika rata-rata anak meninggal setiap harinya berjumlah 500 anak!. Penyebab kematian anak ini di karenakan kekurangan air yang aman dan kebersihan di Sub-Sahara Afrika.

Angka-angka diatas hanyalah sebagian kecil dari angka kematian sebenarnya, dan juga hanya sedikit faktor dan sekian banyak faktor penyebab kematian lainnya. Selalu ada siklus dalam hidup. Bila ada kematian, perimbangannya adalah jumlah kelahiran, demikian seterusnya. Tak perlu perdebatkan jumlah, karena tak ada yang bisa menyajikan angka pastinya. Demikianlah.

5 comments for "Solo, Angkringan, Dan Jumlah Orang Meninggal"

Comment Author Avatar
Klo nggak ada yang mati nanti buminya nggak muat ya pak? :)
Comment Author Avatar
Kematian selalu jadi misteri, orang jalan-jalan di trotoar saja bisa dicabut nyawanya akibat mobil yang sembarangan nyosor (kasus Vios akhir-akhir ini).

Salam kangen mas Sukadi, biasa ninggal link pake sangterasing.wordpress.com sekarang pakai yang lain, sekalian ngenalin web terbaru saya :D
Comment Author Avatar
Yup .... makan dipinggir jalan juga bisa ketabrak mobil sport .. palagi yang di tengah jalan :D ... yang dirumah aja bisa kejatuhan pesawat...
Comment Author Avatar
seingatku gramed masih ditempat yang lama, hanya saja sering tertutup oleh suasana parkir didepannya, jadi terkamuflase he he. saya juga sering dua - tiga kali melintas baru ketemu
Comment Author Avatar
seingatku gramed masih ditempat yang lama, hanya saja sering tertutup oleh suasana parkir didepannya, jadi terkamuflase he he. saya juga sering dua - tiga kali melintas baru ketemu