Kontroversi Liga Indonesia: Karena Sepak Bola Tak Sepenuhnya Hiburan

Entah, sudah berapa lama saya menyimpan rasa optimis saya terhadap prestasi sepak bola Indonesia. Meski sudah beberapa kali mengalami gonjang-ganjing dan pergantian kepengurusan di tubuh PSSI, tapi tetap saja tidak ada rasa optimis. Bagaimana mau optimis? Karena dalam kenyataannya tak banyak perubahan yang terjadi, malah dalam beberapa aspek terkesan semakin baruk dari sebelum-sebelumnya. Koreksi kalau saya keliru.

Sanksi yang dijatuhkan oleh FIFA kepada PSSI sebagai induk sepak bola di Indonesia tak juga membuat jera. Seolah tak ada pelajaran berharga yang diambil, karena nyatanya sampai sekarang tak jauh beda kondisi persepakbolaan di Indonesia.
Embed from Getty Images
Pasca bebas dari sanksi, kompetisi yang bergulir tak juga mengalami kemajuan, bahkan menurut saya malah semakin tidak jelas. Banyak kontroversi yang terjadi, baik itu di Liga 1, Liga 2, atau liga-liga lain yang diselenggarakan dibawah naungan PSSI. 

Kontroversi Liga 1


Masih hangat, baru kemarin kontroversi terbaru menandai betapa carut marutnya kompetisi liga, setelah laga panas antara PSM Makassar melawan Bali United yang dimenangkan oleh Bali United, komdis mengumkan bahwa pertandingan antara Mitra Kukar vs Bhayangkara FC dimenangkan oleh Bhayangkara, Mitra Kukar dianggap kalah WO karena memainkan pemain yang tidak sah. Padahal hasil semula berakhir imbang dan menjadikan Bhayangkara masih diperingkat kedua dibawah Bali United.

Persaingan memperebutkan gelar juara Liga 1 memang begitu ketat, panas, dan tak jarang penuh kontroversi. Sebagaimana ditulis dalam situs bola.liputan6.com, setidaknya ada 3 kontroversi yang mengiringi rivalitas juara Liga 1 2017, sebagaimana saya rangkumkan berikut:

1. Rusuh Suporter Ketika PSM Kalah Dari Bali United

Pertandingan dengan tensi tinggi antara PSM Makassar vs Bali United berlangsung di Stadion Andi Mattalatta, Makassar, Senin (6/11/2017). Maklum saja, (awalnya) siapa yang menang dalam pertandingan ini punya peluang besar untuk meraih gelar juara. Setelah 90 menit waktu normal tidak ada gol yang tercipta, barulah pada babak tambahan waktu, Stefano Lilipaly berhasil mencetak gol untuk Bali United. Dari gol inilah kericuhan berawal, karena setelah beberapa detik gol tercipta, suporter yang berada di tribun tertutup melempari bench Bali United.

Tak hanya lemparan, karena ada ratusan suporter PSM yang masuk ke lapangan dengan maksud menyerang pemain dan ofisial Bali United. Kurang lebih 15 menit kericuhan terjadi, dan pada akhirnya panpel dan aparat kemanan membawa dan mengamankan pemain serta ofisial Bali United ke ruang ganti. 

Pertandingan pun dihentikan pada menit ke-94 oleh wasit Murzabekov Eldos, setelah kedua kesebelasan menyepakatinya. Jumpa media yang sedianya diadakan setelah pertandingan pun juga ditiadakan. Hasil ini tentu menjadi pukulan telak bagi PSM dan pendukungnya, karena secara otomatis kekalahan ini menutup peluang PSM untuk merebut gelar juara, karena tinggal satu pertandingan tersisa dan secara matematis tidak mungkin mengejar posisi teratas. Dengan 62 poin, PSM tertinggal 3 poin dari Bali United dan Bhayangkara FC.

2. Madura United Tanpa Dukungan Suporter

Kasus intimidasi wasit saat laga melawan Borneo FC di di Stadion Gelora Ratu Pamelingan, Pamekasan, Jumat (13/10/2017) membuat manajemen Madura United diganjar sanksi berat. Komdis PSSI menjatuhkan sanksi empat laga kandang usiran tanpa penonton serta denda Rp 125 juta.

Setelah mengajukan banding, Komisi banding PSSI mengabulkan banding Madura United. Tapi tidak sepenuhnya sanksi lepas dari MU, Komding PSSI menetapkan hukuman berupa dua kali pertandingan tanpa penonton dan jumlah denda yang harus dibayar sebesar Rp 500 juta.
Madura United yang masih punya peluang juara tentu sangat dirugikan dengan keputusan ini. Benar saja, laga melawan Bhayangkara FC digelar tanpa penonton, pada Rabu (8/11/2017) di Stadion Gelora Bangkalan, dan menyakitkannya lagi hasil pertandingan ini dimenangkan Bhayangkara dengan skor 1-3. Praktis hasil ini menutup peluang juara Madura United.

3. Bhayangkara FC Mendapat Poin Tambahan

Bagai mendapatkan durian runtuh, Bhayangkara FC mendapatkan poin tambahan karena Mitra Kukar dinyatakan kalah 0-3 saat melawan Bhayangkara FC. Bukan itu saja, Mitra Kukar juga berkewajiban membayar denda Rp 100 juta karena dinyatakan memainkan pemain yang tidak sah saat melawan Bhayangkara FC di Stadion Aji Imbut, Tenggarong, Jumat (3/11/2017). Mohamed Sissoko adalah pemain yang dimaksud.

Protes dari kubu Bhayangkara FC atas dimainkannya Mohamed Sissoko ternyata mendapat respon dari Komdis, hingga keluarlah sanksi sebagaimana tersebut diatas. Awalnya pertandingan yang berakhir imbang 1-1 ini pun akhirnya menjadi kemenangan bagi Bhayangkara, dan secara otomatis membuat posisi naik ke peringkat pertama menggeser Bali United. Secara poin sama 65, tapi secara head to head Bhayangkara unggul atas Bali United.

Tentu yang dirugikan dengan keputusan ini bukan hanya Mitra Kukar, tapi Bali United juga. Dan pada akhirnya, kemenangan Bhayangkara atas madura United membuat mereka hampir pasti menjadi juara, walau masing-masing masih menyisakan satu pertandingan lagi.

Masih ada kemungkinan juara ditentukan pada pertandingan terakhir, hal ini terjadi bila Mitra Kukar mengajukan banding atas sanksi yang mereka terima, dan banding mereka dikabulkan. Tapi kok berat menurut saya.

--------------------------------------------------------------------------------------------

Apakah hanya itu kontoversi yang terjadi? Tidak! Masih sangat banyak kontroversi lain, baik di Liga 1, Liga 2, atau liga lain dibawah PSSI. Masih ingat tentunya kasus baku hantam antar pemain di Liga 2, kasus kematian suporter saat bentrok antara pendukung Persita Tangerang dan PSMS Medan. Masih banyak lagi, tak perlu panjang lebar saya tuliskan di sini, cari saja di google kalau sempat.

 
Tak perlu berdebat, dan tak ada yang perlu diperdebatkan. Percuma saja, hanya buang-buang energi. Saya sendiri merasa tak ingin menyelamati tim yang keluar sebagai juara Liga 1, mungkin Liga 2 juga, tak ingin saja. Bukan apa-apa, secara pribadi saya tidak membenci klub manapun di Indonesia, saya hanya tidak suka saja terhadap proses kompetisi hingga banyaknya kontroversi yang terjadi dalam perebutan gelar juara. Toh, juga tak ada dampak apa pun ucapan selamat bila saya berikan.

Selain Liga 1 yang masih menyisakan satu laga terakhir, masih ada Liga 2 yang memainkan laga babak 8 besar. Sudah diketahui bersama, Liga 2 juga tak kalah kacau, pengunduran atau penundaan jadwal pertandingan sudah terjadi. Sampai saat saya tuliskan ini, masih belum jelas juga nasib babak 8 besar. Jangan-jangan hasilnya nanti juga tak kalah kontroversialnya dengan Liga 1. A Sudahlah. Semoga saja semua baik-baik saja. Tak bisa sepenuhnya berharap hiburan dari sepak bola, karena sepak bola tak sepenuhnya hiburan. Seperti artikrl yang ditulis Football Tribe Indonesia: Sepak Bola Indonesia: 50% Rusuh, 40% Dagelan, 10% Hiburan. Baca saja lewat tautan tersebut.

Biarlah, saya menyimpan harapan ini baik-baik. Kalau pun sekarang saya apatis, bukan berarti saya tak ingin sepak bola Indonesia berprestasi. Kelak, entah tahun berapa, saya yakin Indonesia bakal punya prestasi, siapa tahu Indonesia menjadi juara di Piala Dunia. Atau, jangan-jangan malah PSSI bubar terlebih dahulu sebelum keyakinan saya bisa terwujud. Ah, entah.

1 comment for "Kontroversi Liga Indonesia: Karena Sepak Bola Tak Sepenuhnya Hiburan"

Comment Author Avatar
jujur, saya itu males banget nonton sepak bola apalagi kalau nonton liga Indonesia, kalau nontoh yang kelas asia atau dunia juga males, karena ujung2 nya Indonesia past kalah